Translate

Sejarah Masuknya Islam Ke India

 PEMBANTAIAN UMAT HINDU DAN BUDHA INDIA OLEH ISLAM
http://www.historyofjihad.org/india.html
Perjuangan Hindu yang Sengit dan Terus Menerus melawan Jihadis menghalangi Islamisasi India secara total
Berbeda dengan Islamisasi total Persia, Mesir, Mesopotamia (Irak), Turki, Afrika Utara, Islamisasi India tidak tuntas. Setelah lebih dari 1000 tahun tirani Muslim, dari 715 - 1761, lebih dari 70% rakyat India tetap Hindu. Ini BUKAN karena kebaikan Muslim, karena ini memang bukan ciri khas mereka. Keberanian ksatria2 Hindulah yang mampu menghantam keberingasan berdarah Jihadi berkali2 terlepas dari berbagai kekalahan yang juga dialami pihak Hindu.

Muslim menyerang India hanya 4 tahun setelah mereka menginvasi Persia
Tidak banyak yang tahu bahwa setelah menginvasi Persia tahun 634, Muslim menginvasi kawasan Sindh di India tahun 638, jarak waktu yang 4 tahun. Tapi sementara Persia takluk setelah 17 tahun, mulai tahun 651, Muslim sampai memerlukan waktu 700 tahun untuk menjajah India (sekarang Sindh menjadi Pakistan, yang memisahkan diri dari India tahun 1947).

Dan bahkan setelah itu merekapun tidak dapat memerintah India secara damai. Perlawanan Hindu bukan saja sengit tetapi kebuasan kelompok Maratha Hindu sampai menyaingi kebuasan Muslim. Mereka, terpaksa mengikuti cara perang muslim, yaitu mengejar Muslim sampai ‘dimanapun mereka dapat ditemukan’. Taktik mengalahkan Muslim macam ini juga diulangi di Ethiopia dan Sudan Selatan (Nubia) dimana orang2 Kristen Afrika dari Nubia menggunakan taktik gerilya untuk mengejar setiap dan semua Muslim sampai ke akar2nya. 
Hanya dengan cara ini Islam dapat dikalahkan.

Taktik kotor Muslim melawan India: Memenggal kepala anak2
Serangan Arab Muslim melawan India sejak 638 berkali2 dapat dikalahkan oleh para raja Makara (Makran) dan Sindh. Kealotan Hindu ini sampai mengherankan Muslim. Setelah kampanye berdarah selama 80 tahun, Muslim merebut Fort Deval (Debal, didekat Karachi sekarang) secara curang, dengan menculik 3 anak-anak seorang petinggi Fort Debal, MEMENGGAL KEPALA SALAH SEORANG ANAK DAN MENGANCAM AKAN MEMENGGAL YANG LAIN.

Dengan ancaman ini pihak Hindu terpaksa menyerah. Mereka namun demikian tidak akan pernah melupakannya, saat pemimpin biadab Muslim, Mohammed bin Kasim, mulai menancapkan cengkraman kotornya di India. Dua puteri Raja Dabir yang ditangkapi Qasim juga ditangkap dan dikirim kepada sang Kalif di Bagdad untuk koleksi haremnya. Tapi puteri2 ini tidak semudah itu dikalahkan. MEREKA MEROBEK HYMEN MEREKA DENGAN TANGAN MEREKA SENDIRI DAN MENGATAKAN BAHWA KASIM telah mengambil keperawanan mereka. 
Ini membuat marah sang Kalif dan memanggil Kasim ke Bagdad. Kasim dituduh melakukan pengkhianatan ! Hukumannya ? Ia disekap dalam sebuah peti kayu bulat yang ditancapi dengan paku didalamnya dan peti kayu itu digulingkan dari bukit. 
Demikianlah kematian mengenaskan salah satu algojo Muslim India.

Cara kaum Rajput Hindu merongrong Muslim selama 500 tahun
Setelah menjajah Sindh, Muslim menyerang Punjab tapi kalah. Kemudian mereka menyerang Rajputana, tetapi kalah oleh Raja Bhoj, dan saat mereka menyerang Gujarat, mereka dikalahkan para Chalukya (Solankis) dari Anahilwada. Jadi dari tahun 715 sampai 980, Muslim tidak maju2 dari Sindh. Hanya di thn 980, Muslim bisa menyerang India lagi.


Cara Muslim memanfaatkan aristokrat Hindu
Bhai Taru Singh ji (samping) dikuliti bagian atas kepalanya hidup2 atas penolakannya masuk Islam (th 1745)

Bhai Taru Singh ji (samping) dikuliti bagian atas kepalanya hidup2 atas penolakannya masuk Islam (th 1745)
Thn 980, panglima Muslim, Sabuktagin menggunakan mata2 untuk mempelajari taktik perang Hindu. Menurut mata2, Hindu memulai perang pada saat matahari terbit dan mengakhirinya pada saat matahari terbenam. Setelah mempelajari taktik ini, Sabuktagin menantang raja Jayapal Shahiya untuk berperang dan keduanya menyetujui tempat dan waktu perang. 
Keduanya sampai pada tempat yang ditentukan, satu hari sebelum tanggal perang yang sudah ditetapkan dan keduanya saling mengirimkan utusan untuk menyetujui permulaan perang pada saat matahari terbit keesokan harinya. Tapi malam itu juga Muslim menyusup masuk kamp Hindu dan membantai sebagian besar tentara Hindu.
Keesokan harinya, sisa2 tentara Hindu mengundurkan diri ke ibukota mereka, Kubha, sambil dikejar Muslim. Kota itupun direbut Muslim dan menamakan kota itu; KABUL. 
Hindu semakin terdesak ke arah timur.

Taktik licik Muslim di Pertempuran Lahore
Setelah merebut Kabul, Muslim menghancurkan semua kuil2 Hindu dan memaksa orang2 Hindu masuk Islam. Setelah kekalahan raja Jayapal Shahiya, puteranya, Anandpal Shahiya, memindahkan ibukotanya dari Kabul ke Luvkushpura (Lahore). 
Ia mengumpulkan semua sekutunya dan menghadapi penjajah Muslim yang sekarang dipimpin oleh putera Sabuktagin, Mahmud.

Kedua pasukan bertemu di pinggir sungai Ravi dekat Lahore. Muslim dibuat hancur lebur oleh Hindu yang tidak juga mau menyerah kepada imperialisme Arab biadab. Hindu menggunakan gajah yang dilengkapi dengan tameng. Muslim menyadari kelemahan mereka. 
Mereka mengirim utusan ke Anandpala, dengan alasan mencari damai dan dibiarkan keluar dari India dengan selamat. Guna menunjukkan maksud baik mereka, mereka mengatakan bersedia untuk datang ke kamp Hindu untuk makan siang. Anandpala sayangnya menyetujuinya, walaupun ia diprotes keras oleh sekutu2nya.

Pihak Muslim mendatangi markas Hindu siang itu. Mereka berpura2 mengobrol dengan tentara Hindu dan meminta agar diperlihatkan tempat markas para gajah. 
Sang tuan rumah yang ramah tamah sama sekali tidak mencium akal bulus musuh mereka ini. 
Bagi mereka ‘tamu harus diperlakukan seperti dewa’ (Athithi Devoh Bhava). Dengan diam2 Muslim menyelundupkan serbuk2 opium kedalam makanan gajah.

Beberapa saat kemudian pihak Muslim pulang dan Hindu yakin bahwa perang kini selesai dan perdamaian segera akan tercapai dengan pembubaran kedua markas perang mereka. Tapi betapa kagetnya mereka setelah beberapa jam kemudian mereka mendengar kavalri Muslim mengelilingi markas mereka dan memulai serangan sengit dengan teriakan histeris ‘Allahuakbar’. Hindu dengan bingung segera mempersiapkan gajah mereka dengan menaruh sadel di punggung gajah dan segera menyerang Muslim secara semrawut. Mereka semakin shock ketika gajah mereka menolak perintah dan malah melarikan diri dari ajang pertempuran. Gajah2 itu sudah terkena pengaruh opium. Gajah yang dikendalikan Pangeran Anandpala juga mulai lari kesana kemari. Ia dikejar tentara Muslim yang memotong tali sadelnya dan mengakibatkannya jatuh dari gajahnya. Ia terhempas ke tanah dan saat tidak berdaya, MUSLIM MEMENGGAL KEPALANYA, menusuk kepalanya pada ujung tombak dan memamerkannya pada pasukan Hindu. Ini semakin membuat shock pasukan Hindu yang sudah kebingungan. Tidak terbiasa dengan cara biadab memperlakukan seorang pemimpin macam ini, tentara Hindu mengundurkan diri tetapi tidak lama kemudian merekapun dibantai.

Penculikan dan Pembunuhan Tirlochanpala oleh Muslim yang berpura2 sebagai Sanyasi
Setelah kemenangan curang mereka di Lahore, cucu muda Jayapala Shaiya, Tirlochanpala Shahiya, mengambil oper kekuasaan. Ia hanya anak muda berusia 17 tahun. 
Ia memindahkan ibukota dari Lahore ke Kangra, sekarang disebut Himachal Pradesh.

Kerajaan Shahiya yang meliputi dari Heart sampai ke Haridwar, kini semakin menciut menjadi hanya 1/5 bagian dan tidak memiliki posisi untuk menghalangi lajunya Muslim di India. 
Tetapi ia tetap melanjutkan contoh ksatria ayah dan kakeknya dan bersekutu dengan raja2 Kashyapmeru (Kashmir) dan Tibet, untuk mengusir Muslim dari Punjab dan Upaganasthan (Afghanistan). Gubernur Muslim dari Punjab, marah dan seperti memang sudah menjadi ciri khas Muslim, merencanakan akal bulus untuk mengalahkan raja muda itu.

Ia mengirimkan tentara yang berbusana seperti tukang2 bertapa Hindu dari Kabul membawa pesan2 damai bagi Tirlochanpala. Dengan tipu daya ini, mereka diijinkan masuk rumah sederhana Tirlochanpala (karena kekayaan raja2 Shahiya habis dijarah Muslim). 
Begitu mereka masuk, tukang2 bertapa penyamar itu menyerang sang pangeran, menggorok lehernya dan memutuskan kepalanya yang kemudian mereka selundupkan keluar, dan meninggalkan pesan di dekat tubuh tidak berkepala raja muda itu bahwa Islam akan jaya dan akan mengalahkan siapapun yang ingin menghalangi jalan Allah.

Sisa2 tentara Shahiya, kehilangan pemimpin dan patah semangat. Mereka bermigrasi ke pegunungan Himalaya dan menjadi peternak domba dan kambing. Mereka kemudian dikenal sebagai Gaddi. Gaddi2 ini sampai sekarang masih eksis di Himalaya.

Jadi dengan kematian Tirlochapala, raja terakhir dinasti Hindu yang menguasai Afghanistan dan Punjab hilang sudah. India harus menunggu 800 tahun sebelum Raja Punjab, Maharaja Ranjit Singh menaiki tahta pada abad 18. Selama 800 tahun itulah berlangsung tirani Muslim yang memaksa mayoritas Hindu Afghanistan, Paktoonistan dan Punjab Barat menjadi Muslim.

Penjarahan Somnath oleh Mahmud Ghaznavi
Dengan habisnya dinasti Shahiya, India menjadi tempat jarahan Muslim yang dipimpin Mahmud yang menghancurkan kuil2 Hindu di Somnath, Palitana, Thanesar (Staneshwara), Mathura, Kannauj, Khajuraho setiap tahunnya, sambil tidak lupa mengambil budak bagi pasar2 budak Bagdad dan kota2 Muslim lainnya. Jarahannya terhadap kuil Hindu ternama, Somnath di Prabhash Patan di Gujarat sampai sekarang masih membekas di benak Hindu. 
Tawanan2 Hindu ini harus berjalan lewat pegunungan Himalaya bagian barat. 
Banyak yang mati ditengah jalan. 
Muslim menamakan kawasan Himalaya Barat dengan ‘Hindu Kush’, yang berarti Pembunuhan Orang Hindu (Kush berarti ‘membunuh’ dlm bahasa Persia). Nama ini masih dipakai sampai sekarang dan merupakan peringatan bagi Hindu akan masa tragis ini.
Bhai Dayala Ji dimasak dlm kuali hidup-hidup oleh tentara Muslim (th 1675) 
http://en.wikipedia.org/wiki/Bhai_Dayala

Kemenangan pertama Hindu tehadap Muslim di Pertempuran Baharaich (Uttar Pradesh), 1033
Putera Mahmud, Masud, melanjutkan pengaruh ayahnya dengan menembus lembah Gangga dan mendirikan markas di Baharaich, dan mengirimkan pesan kepada raja2 Hindu disana untuk menyerah dan memeluk Islam. (!!)

Seperti biasa sebelum memulai perang, raja2 Hindu mengirimkan utusan kepada Masud dan megnatakan bahwa tanah itu milik mereka dan pasukannyalah harus hengkang dari situ dengan damai. Tapi Masud menjawab bahwa tanah itu milik ALLAH dan ia bisa menduduki tempat manapun yg ia mau. Dan adalah tugas sucinya untuk menawarkan Islam kepada siapapun yang belum mengakui Allah.
Tentara Hindu membabas habis tentara Masud. 
Setelah merasakan kekuasaan Muslim selama 400 tahun sejak 638, pihak Hindu sudah mulai mengerti tipu daya dan cara2 pengkhianatan Muslim. Mereka kini semakin waspada terhadap kelicikan muslim.

Pertempuran Baharaich ini berakhir pada tgl 14 Juni 1033. 
Seluruh tentara Muslim dengan panglima mereka berbaring tidak bernafas. Tidak satupun tentara Muslim diijinkan hidup. Sampai sekarang di Baharaich terletak kuburan Muslim penjajah itu, ‘Pangeran’ Ghazi Mian Masud. Disitu ia dianggap sebagai martir oleh penduduk Muslim setempat sebagai seorang ‘Ghazi’ (yang berarti seorang Muslim yang mencapai kemartiran dengan membunuh non-Muslim). 
Dan setiap tahun, sampai sekarang, diadakan upacara Urs untuk memperingatinya.

Yang mereka ingin lupakan adalah keberanian tentara2 Hindu yang mengorbankan nyawa mereka mereka demi kemenangan menentukan pertama melawan invasi Jihad di India. 
Setelah kemenangan Hindu yang sangat penting ini, India kembali damai selama 1 ½ abad sampai dimulainya invasi Muslim berikutnya dibawah kepemimpinan Mohammed Ghori.

Jangka waktu 150 tahun ini, dari 1033 - 1187, membuat Hindu melupakan sikap curang Muslim. Kerajaan Muslim Ghazni (asal pangeran Ghazi) di Punjab Timur, mengadakan perdamaian dengan tetangga Hindunya dan orang Hindu menyangka bahwa Muslim, seperti penjajah lainnya akan berintegrasi dengan masyarakat Hindu. Kebijakan Ghaznivid untuk mengedarkan coin dalam bahasa Sansekerta dan menggunakan versi Sansekerta nama2 Muslim, seperti Mahamada bagi Mohammed, seolah2 memberi kesan sifat damai Muslim.
Bhai Mani Singh ji dipotong sepenggal demi sepenggal untuk setiap penolakannya menerima Islam (th 1738)
http://www.searchsikhism.com/mani.html

The Spiritual Arab Imperialism, contoh kasus : islam di India
... Saya disini hanya akan menyampaikan contoh bgm India mengalami proses imperialisme Arab :
India dulu merupakan negara terkaya di dunia. 
Semua berlian2 yg paling indah didunia ini bisa ditelusuri kembali ke India: Koh-i-Nur, Darya-i--Nur, Great Mughal, the Florentine, the Sanci, the Shah, the Regent, the Orloff – semuanya berasal dari India. Ini karena penambangan berlian dan seni memprosesnya dimulai di India.

Kekayaan India itu juga yang menarik orang asing. 
Karena kekayaan negeri itu, raja Muslim, Shah Jehan dipercaya telah membangun Taj Mahal dgn biaya luar biasa sebesar 230,000,000 dollar uang sekarang ini utk menunjukkan cintanya kpd isterinya (Walaupun ada versi lain yg mengatakan bahwa Taj Mahal dulunya pura Hindu yg dicuri, diobrak abrik dan diganti fungsinya oleh Muslim). Tanpa kekayaan India, raja ini tidak dapat mendudukkan dirinya pada Mahkota Peacock (?) yg berharga 7,000,000 dollar. 
Iapun tidak mungkin dapat memiliki 2 kamar bawah tanah yg memiliki kapasitas sebesar 150,000 cubic feet, penuh dgn batu2an dan besi mulia.

Muhammad Bin Qasim adalah penyerang Muslim pertama yg menginvasi India pd th 710 A.D. 
Ia merampas kekayaan senilai 600 million dirham ditambah dgn beberapa ribu budak. Ini merupakan angka yang luar biasa besarnya pada jaman itu. 
Dan akibatnya, ia memeras kekayaan provinsi Sindh dan menyengsarakan mereka. 
Tapi yang paling parah adalah bahwa perampasan ini adalah tujuan agama mereka. 
Sang penjajah memaksa para pendeta brahma (Brahmin) utk mengemis di jalanan karena menyinggung Allah dgn patung2 mereka.

Cerita2 kebiadaban Mahmud Ghazanvi, salah seorang perampok terbesar dalam sejarah yg menyiksa rakyat India selama seribu tahun lewat persekusi sistimatis, perampokan dan balas dendam, akan membuat bulu kudukmu berdiri. Sosok lelaki ini kecanduan perambokan, barbaritas dan brutalitas sama spt orang jaman sekarang kecanduan narkobat. 
Semua kejahatannya dilakukan atas nama Allah, yg menuntut pemujaNya agar menghancurkan segala patung dan memuja diriNya seorang diri, tanpa pernah menjelaskan mengapa menggunakan patung dianggap salah tetapi memuja berhala yg tidak kelihatan spt Allah dianggap baik. Kalau memang begitu, Allah seharusnya menciptakan orang2 dgn keinginan utk memujaNya saja. Ia tidak melakukannya, tetapi sebaliknya menikmati pembantaian, pencabik2an tubuh dan kesengsaraan bagi mereka yg tidak mempercayaiNya. Tuhan macam itu yg kehilangan tidak memiliki kebijaksanaan secuilpun harus dimusuhi orang2 yg masih memiliki rasa moral.

Mahmud Ghazanvi, si pecandu perampokan itu memiliki hobi menyerang semua kuil Hindu yg kaya di India. Ia sangat tertartik dgn orang Hindu yg memiliki adat menghiasi patung2 mereka dgn emas, berlian dan batu2an berharga lainnya. 
Sama spt serigala tertarik pada domba atau pemerkosa tertarik gadis cantik.

Ia menyerang dan merampok India tidak kurang dari 17 kali ! 
Pada thn 1001M ia mengalahkan Jaya Pal, yg diperintahkan utk membayar uang sandera sebanyak 250,000 kepingn emas dan kalungnya seharga 200,000 diners ditambah dgn denda 400,000 yg harus dibayar keluarganya.

Invasinya terhdp of Multan (1005-6A.D.) menambah “tabungan hasil sanderanya” sampai 20,000,000 dirham. Bahkan angka yg lebih besar didapatkannya dgn berbagai cara: contoh, ia mendenda Nawasa Shah 400,000 dirham ketika ia menyatakan telah meninggalkan Islam utk kembali pada agama semula, Hindu. Peneryangan terhdp Bhimnagar di Kangra membawanya uang rampasan sebanyak 70,000,000 dirham, selain berlian, perhiasan, emas dan perak seberat 5 ton. "Kepatuhan" Mahmud pada agamanya sampai menghasilkannya patung2 berlapiskan perhiasan permata milik Bhagawan di Mathura, yang tidak berani melawannya tetapi membiarkan ribuan akyat Hindu yg mencoba melindungi kehormatannya, dibunuh secara masal. 
Barang rampasan dari Mathura begitu besar sampai tidak ada yg dapat menebak secara pasti. Perkiraan paling rendah adalah 98,300 Misqal emas yg dikenakan kelima patung kuil itu. Memang selera si Bhagavan sangat tinggi ! Ditambah lagi 200 patung yg terbuat dari perak murni dgn berat paling tidak 10 ton. Kota2 disekitarnya kota suci ini masih juga dipaksa membayar 3,000,000 dirham dlm bentuk denda dan sitaan harta benda. 
Namun perampasan kota Somnath, yg menghasilkannya 20,000,000 keping emas pada akhirnya berhasil memuaskan Allah karena si perampok iblis itu tidak pernah lagi kembali ke India.

Selain Mahmud, masih ada sejumlah perajah Muslim lainnya. Selama 7 abad, mereka memperkosa ekonomi tanah indah, Lakshami, yg penuh dgn emas, berlian, mutiara dll. Kerakusan akan perampokan ini, yg ditingkatkan dgn semangat membunuh JIHAD dianggap sbg bentuk pemujaan yg paling sempurna yg menjanjikan surga !

Para penjajah Muslim terdiri dari berbagai bangsa : Arab, Turki, Persia, Afghan dan Mughal. Setelah mengobrak-abrik India selama 7 abad, mereka masih juga menganggap diri dinasti asing dan menolak mengidentifikasikan diri sbg orang India. Sikap egois ini tercermin dari fakta bahwa selama periode lama ini MEREKA TIDAK MEMBANGUN SATUPUN UNIVERSITAS ATAU RUMAH SAKIT YANG BERGUNA BAGI RAKYAT INDIA. Satu2nya prestasi mereka adalah mendirikan rumah2 pelacur yg dikenal sbg harem, taman2 indah dan gedung2 yang kelewatan mewah seperti Taj Mahal untuk memuaskan dahaga romantis mereka yang penuh dengan nafsu birahi tidak terkontrol, kecurangan dan absennya moralitas.

Karena mereka hidup dan mati sebagai orang asing, mereka melakukan apapun yang dapat menjamin kelangsungan dinasti mereka dan tidak sungkan2 menghancurkan segala yang dapat menguntungkan negara kelahiran mereka (India), tempat mereka menikmati hidup dan akhirnya dikubur. Karena mereka memerintah dgn tangan besi dan paksaan, meminta ijin rakyat adalah konsep yg sangat asing bagi mereka. Agama mereka-- yg menjadikan Muslim anak kesayangan Tuhan dan non-Muslim sbg makanan Setan, oleh karena itu pihak Muslim harus menghina, melecehkan dan memburu si non-muslim---adalah alasan utama permusuhan Muslim terhdp rakyat mereka jajah. Malah, islam mewajibkan agar para raja Muslim memberlakukan India sbg DARUL HARB, wawasan perang/medan tempur, dimana DAMAI DILARANG dan penyiksaan, tirani, kesengsaraan menjadi metode sah.

Tidak pernah terpikirkan oleh mereka utk mendidik rakyat, meningkatkan taraf hidup atau meningkatkan kekuatan tentara negara demi penyelamatan negara. Tidak heran bahwa India justru mundur total pada masa pemerintahan Muslim yg sangat lama itu dan mengundang kebencian dan kedengkian rakyat. Kalau penguasa Muslim memperlakukan India sbg bangsa mereka sendiri, maka rakyat India sekarang akan menganggap mereka pahlawan, terlepas dari agama mereka. Jadi jangan heran kalau utk selama2nya rakyat India akan memfokuskan kutukan abadi mereka kpd Muslim.

Kutipan2 tentang sejarah Islam India
Kejahatan yang paling biadab yg dilakukan para pengikut Mohamad alias jihadis adalah terhdp orang2 Hindu tidak bersenjata dan pencinta damai di India. Seluruh peradaban Hindu yg dinamakan dgn Peradaban Saraswati dipenggali dan dibumi hanguskan sampai tinggal debu. Kedalaman dan luasnya holocaust terhdp Hindu ini begitu mengagetkan sampai tidak memungkinkan otak manusia utk mengerti. Ajaran Kitab Weda India, juga dikenal dgn Bharatvarsha dan meluas dari Afghanistan sampai ke Jepang. Tetapi 1400 tahun yang lalu, Muslim2 yg seperti kesetanan ini menghancurkan Bharatvarsha lewat pengkhianatan dan teknik2 yang tidak setetespun didasarkan kpd kemanusiaan. Ini tindak kejahatan terhdp peradaban terbesar yg pernah dikenal orang.
Bhai Mati Dass digergaji hidup-hidup atas penolakannya masuk Islam

Dari ‘Rape of a Civilization’, oleh Kuldeep Razdan, Sword of Truth, September 4th, 1999
"Perebutan tentara Mohamadan terhdp India mungkin adalah yang paling berdarah dlm sejarah manusia. Ini sebuah kisah mengerikan karena intinya adalah, peradaban adalah hal yang indah, yg setiap saat bisa dihancurkan oleh invader barbaris dari luar ataupun dari yg membengkak jumlahnya dari dalam."

W. Durant, "Story of Civilization"
Di bagian2 lain di Asia dan Eropa, negara2 yg direbut pasukan Muslim, segera memilih masuk Islam ketimbang memilih mati. Tapi di India, karena perlawanan alot agama Hindu yg sudah berusia 4000 itu, penjajahan Muslim bagi Hindu hanyalah sebuah perjuangan murni atnara hidup dan mati. Seluruh kota2 dibakari habis dan penduduk dibantai. 
Setiap kampanye perang membawa ratusan ribu korban dan jumlah yg sama dideportasi sbg budak. Setiap invader baru membuat bukit atas tengkorak2 orang2 Hindu.

Jadi, perebutan Afghanistan pd th 1000, diikiuti oleh annihilasi seluruh populasi Hindu disana; memang, kawasan itu masih juga disebut HINDU KUSH, atau 'PEMBANTAIAN HINDU'. Sultan2 Bahmani di India pusat, menjadikan patokan agar membunuh 100.000 Hindu dalam setahun. Th 1399, Timur the lame (Timur si Cacad) dikatakan membunuh 100.000 Hindu DALAM SATU HARI, dan ini menurut sejarawan Muslim sendiri. Koenraad Elst mengutip Professor K.S. Lal dlm bukunya, "Growth of Muslim population in India", yg mengatakan bahwa menurut perhitungannya, penduduk Hindu berkurang sebanyak 8O.000.000 antara th 1000 dan 1525. ... Kami tidak pernah dapat mengukur luka fisik luar biasa yg dilakukan invasi Muslim terhdp India. Yg lebih sulit adalah mengukur kehancuran moral dan spiritual terhdp Hindu India.

Dari “Negationism and the Muslim Conquests,” oleh Francois Gautier


TERPECAHNYA BANGLADESH
Terlepas dari jaminan keamanan yg ditawarkan oleh pemimpin2 Muslim kpd 13 juta non-Muslim yg Hindus, Buddhis dan Kristen yg sejak turun temurun tinggal di Pakistan, begitu bagian dunia itu di-Islamkan, mulailah kesengsaraan mereka detik itu juga. Pertama, non-muslim (khususnya Hindu) dituding sbg penyebab segala hal yg tidak beres di Pakistan. 
Mulai slogan2 spt : "Islam terancam bahaya karena Hindu2 kafir." Persenjataanpun dibagikan kpd massa Muslim dan tanah Hindu direbut secara paksa. 
Wanita Hindu secara ramai2 diculik, diperkosa dan di'nikahi' 
Muslim shg poligami merebak dimana2.

Islam menjadi akronim bagi Intoleransi, Pembantaian, Penjarahan, Pembakaran rumah/pura dan pelecehan wanita Kafir.

1950, sekitar 1/2 juta Hindu dibantai di Pakistan dgn tingkat kebrutalan yg tidak dapat dibayangkan. Sekitar 4.5 juta kafir mengibrit ke India namun pemerintah India mengunci perbatasan karena takut pengugnsi hanya akan mengakibatkan kekerasan antar penduduk Hindu dgn Muslim. 8 juta Hindu ditinggal dlm ketakutan di Pakistan.

Antara 1951 - 1970, 4 juta pengungsi menyelundup lewat perbatasan ke India dari agama damai dan hukum2nya. Tanah dan harta benda
mereka direbut oleh pemerintah Pakistan yg tadinya berjanji utk menyimpannya dlm tabungan escrow nasional dan dibagikan kembali saat urusan dgn India beres. Sementara itu, non-muslim yg mencari keselamatan dari kedamaian yg ditawarkan Islam dibiarkan tanpa uang sepeserpun dan lontang lantung menjadi gelandangan di jalan2 Bengali di India.

Bahkan antara sesama Muslim di BangladeshPUN tidak ada ketentraman. 
Thn 1971, pecah perang saudara dan terciptalah Bangladesh, negara Muslim yg memisahkan diri dari negara Muslim Pakistan Rolling Eyes ! Dlm prosesnya, tiga juta orang dibantai Muslim Pakistan yg dipanas2i utk membunuh Hindu kafir dan Muslim Bangladesh yg "1/2 kafir".

SPt dikatkaan MajGen Pakistan, Sawkat Reza: "Kami telah merampungkan pekerjaan mulia atas nama agama kami ....". 200.000 wanita minoritas DIPERKOSA dan kebanyakan dari mereka dibunuh secara brutal oleh bayonet2 yg menunjukkan sadisme sexual. 
Banyak wanita diborong dgn kapal laut ke Saudi dan dijual sbg budak, praktek yg sampai titik ini (2007) masih berlaku. Uang hasil penjualan wanita ini masuk ke kas negara Pakistan.

Strategy Islam, spt biasanya, adalah mengurangi jumlah kafir sampai NOL. 
Bangladesh mencapai ini di daerah Mymensingh Utara, dimana pd thn 1947 berpenduduk 90% Kristen. Karena penindasan brutal pd thn 1964 dan 1971, semua Kristen Garo lari ke India. Distrik Chittagong thn 1947, tadinya 98% Buddhis. Karena tidak mendapatkan suaka di India, kebanyakan dari mereka lari ke Arakan di Burma.

ke-11 juta dhimmi yg tertinggal hidup sbg warga kelas dua di Bangladesh. 
Semua lowongan kerja pemerintah tidak diberikan kpd orang2 'najis' ini dan mereka juga tidak diijinkan menikmati universitas (persis spt di MALAYSIA sekarang ini!!). 
Komite Syariat Munir menegaskan: .... . Mereka tidak akan menjadi warga penuh; mereka tidak memiliki suara dlm pembuatan UU, tidak diberikan hak utk menduduki jabatan pemerintah."

Taslima Nasrin, seorang murtad, menulis buku ttg kekejaman terhdp
non-muslim dlm bukunya "Lajja" (MALU!) dan langsung serta merta disensor oleh Bangladesh dan kelompok "mullah" memasang harga
50,000 taka atas nyawanya, th 1993. 
India, karena takut kerusuhan Muslim, juga melarang bukunya.

Kekejaman terhdp non-muslim masih berlanjut di bagian barat
Pakistan, dan cerita2 naas masih berlanjut sampai detik ini. Bedanya adalah bahwa apa yg dialami Hindu di India kini dialami non-muslim DILUAR India. Bedanya adalah bahwa muslim disana BELUM memegang kekuasaan. Hati2lah !
http://www.fomi.nu/phpBB2/viewtopic.php?p=19339#19339

PEMBANTAIAN TERBESAR DALAM SEJARAH MANUSIA!!
Menurut Prof. K.S. Lal, penulis Pertumbuhan Masyarakat Musli di India, jumlah umat Hindu berkurang sebesar 80 juta jiwa dari sejak 1000 M (tahun di saat Mahmud Ghazni menyerang India) sampai 1525 M, sebelum Perang Panipat.
http://hinduwebsite.com/history/holocaust.htm

Diperkirakan selama 8 abad kekuasaan Islam telah terjadi pembantaian 80 juta umat Hindu. Inilah akar dari pertikaian tak berkesudahan Hindu lawan Muslim di Asia Selatan.
http://www.shopumust.com/hindus.html

Sejarawan Barat bernama Francois Gautier menulis komentar:
“Pembantaian yang dilakukan Muslim di India tidak tertandingkan dalam sejarah, lebih besar daripada Holokaus yang dilakukan Nazi terhadap orang Yahudi.”
http://www.rediff.com/news/1999/feb/12rajee1.htm

Sejarawan Amerika Will Durant menyarikan sebagai berikut:
“Penaklukkan India oleh Islam mungkin merupakan peristiwa yang paling berdarah dalam sejarah manusia. Kisah yang tragis karena ini merupakan bukti bahwa kebudayaan yang beradab, dengan tatanan hukum dan kemerdekaan, kebudayaan dan perdamaian, dapat dengan sekejap dilenyapkan oleh serangan barbar dari luar dan yang selanjutnya beranak pinak di tempat itu.”
http://www.swordoftruth.com/swordoftruth/bookstore/bookrev/niictroi.html

Hindu Kush berarti Pembantaian Hindu
http://www.hvk.org/articles/0401/64.html

Sultan Mahmud bin Gaznavi
Di Thaneshwar
"Darah kaum kafir mengalir begitu derasnya di Thanesar sehingga warna sungai jadi merah dan orang2 tidak bisa minum air sungai itu. Sang Sultan pergi sambil membawa barang2 jarahan yang tak terhingga banyaknya. Syukur bagi Awloh karena anugrah yang diberikannya kepada Islam dan para Muslim."

Di Somnath
”Para Muslim tidak peduli dengan barang2 jarahan sampai mereka memuaskan diri mereka dengan pembantaian terhadap para kafir dan pemuja matahari dan api … Jumlah kafir yang dibunuh lebih dari 50.000.”

Di Mathura
"Para kafir ... berlarian meninggalkan benteng dan mencoba menyeberangi sungai yang deras arusnya … tapi banyak dari mereka yang dibunuh, ditawan atau tenggelam … Hampir 50.000 orang dibunuh.”

Sultan Mahmud bin Qasim
Sindh:
"... dia menghancurkan kuil dan menyunat setiap kafir dengan paksa. Kemudian dia memerintahkan semua kafir dari usia 17 tahun ke atas dibunuh; kaum wanita dan anak2 laki dan perempuan ditawan.”

Mahmud bin Ghori dan Qutbuddin Aibak
(dari Hasan Nizami's Taj-ul-Maasir)

Kol (Modern Aligarh)
"mereka yang pandai dan bijaksana lalu memeluk Islam, tapi mereka yang bersikeras mempertahankan agama nenek moyang mereka dibunuh dengan pedang.”

Kol (Modern Aligarh)
20.000 tawanan dibawa pergi dan dijadikan budak. Tiga buah menara disusun dengan kepala2 mereka dan mayat2 mereka jadi makanan binatang buas.

Di Kalinjar 50.000 tawanan dijadikan budak.
Di Varanasi or Kasi (Benaras) : Kamil-ut-Tawarikh bin Ibn Asir mencatat:
"Pembantaian para Hindu (di Varanasi) luar biasa banyaknya; tiada seorang pun yang diampuni kecuali kaum wanita dan anak2 (yang kemudian diperbudak) dan pembunuhan para pria dilakukan sampai tanah basah semua dengan darah.”

Sultan Firuz Shah Tughlaq
Delhi : (setelah para Hindu membayar pajak toleransi (zar-i zimmiya) dan pajak keamanan (Jizya), mereka dengan bodohnya membangun kuil2 Hindu lagi. Sehingga … )
"... Di bawah tuntunan ilahi, aku (Sultan) menghancurkan kuil2 Hindu ini dan kubunuh para pemimpin kafir dan yang lain kuhukum berat.”

Delhi: - ini lho detail hukumannya -(dari Tarikh-i-Firuz Shahi)
”Sebuah laporan disampaikan kepada sang Sultan bahwa di Delhi terdapat seorang Brahmana tua yang bersikeras melakukan ibadah2 menyembah para dewa di rumahnya dan orang2 Muslim dan Hindu biasa datang ke rumahnya untuk menyembah dewa2 tsb. Brahmana itu membangun altar kayu yang digambari lukisan2 setan dan benda2 lainnya di bagian luar dan dalamnya. Perintah dikeluarkan untuk membawa Brahmana itu menghadap sang Sultan. 
Agama yang benar (Islam) dinyatakan padanya dan dia diminta memeluk Islam, tapi dia tidak mau. Tumpukan kayu bakar disusun dan dengan tangan dan kaki terikat sang Brahmana dilemparkan ke dalam tumpukan kayu. Lalu altar kayunya ditindihkan ke atas badannya. Tumpukan kayu dibakar di dua tempat yakni di dekat kepala dan kakinya. 
Api pertama membakar kakinya dan dia menjerit kesakitan. Lalu api memakan tubuhnya. Sultan menyaksikan ketegasannya dalam menegakkan hukum dan moralitas.

Gohana (Haryana):
"Beberapa Hindu mendirikan kuil baru di desa Kohana dan orang2 Hindu biasa berkumpul di sana untuk melakukan upacara2 ibadah. Orang2 ini ditangkap dan dibawa ke hadapanku. Aku perintahkan para pemimpin orang2 ini dibunuh di muka umum di depan pintu gerbang istana karena kekejian yang dilakukannya (melakukan ibadah Hindu).”

Jajnagar: 
(Gerakan militer oleh Sultan dengan tujuan sebagai berikut)
(sumber : Ainn-ul-Mulk)
membunuhi para kafir, menghancurkan kuil2 mereka berburu gajah melihat-lihat negara mereka yang indah

Orissa: 'Sirat-i-Firoz Shahi' mencatat gerakan militernya dengan kalimat ini:
“hampir 100.000 pria Jajnagar ditawan beserta para wanita, anak2, keluarga mereka. Tentara2 Islam menjadikan pulau ini baskom penuh darah dengan membantai semua pria kafir. Para wanita dengan bayi2 mereka dan wanita2 hamil diikat dan dirantai dan dijadikan budak untuk melayani di rumah setiap tentara Muslim.”

Sultans Dinasti Mamulk
Rohilkhand: Badauni menulis di bukunya 'Muntakhab-ut-Tawarikh'
"Dalam dua hari setelah meninggalkan Delhi, dia tiba di tengah2 daerah Katihar dan membunuh semua lelaki, bahkan yang berusia 8 tahun sekalipun, dan mengikat para wanita.”

Sultan Ala-ul-Din Khilji
Kambayat: Abdulla Wassaf menulis dalam bukunya Tazjiyat-ul-Amsar wa Tajriyat bahwa dia membunuh semua pria Hindu dewasa untuk memuliakan Islam, membanjiri sungai dengan darah, membawa para wanita beserta emas, perak dan perhiasan mereka ke istananya sendiri dan mengambil 20.000 gadis untuk dijadikan budak pribadinya.

Chitoor:
Lebih dari 20.000 wanita Hindu termasuk Rani Padmini bunuh diri agar tidak dijadikan budak seks oleh penguasa2 Muslim. Imam2 Muslim Qazi memberi nasihat pada Sultan Khilji bagaimana memperlakukan tawanan2 non-Muslim. Inilah nasihatnya:

Penyerangannya atas Hindustan: (dalam catatan Tuzk-i-Timuri tertulis)
”Dalam waktu singkat semua orang di dalam benteng dibunuh dan dalam satu jam saja 10.000 kepala2 kafir dipenggal. Pedang Islam bersimbah darah kafir dan semua harta benda dan gandum yang bertahun-tahun disimpan dalam benteng menjadi barang jarahan tentara2ku. Mereka membakari rumah2 sampai jadi abu, dan mereka menghancurkan bangunan2 dan benteng sampai rata dengan tanah… Semua kafir Hindu dibantai, para wanita dan anak2 mereka dijadikan tawanan dan harta benda mereka menjadi jarahan perang para pemenang (Muslim) … Aku umumkan di seluruh tempat bahwa setiap orang yang punya tawanan kafir agar membunuh semua kafir itu, dan siapapun yang ragu2 untuk melakukan itu, dia sendiri harus dibunuh dan harta bendanya diberikan kepada orang yang melaporkannya. Ketika perintah ini terdengar oleh tentara Islam, mereka pun menghunuskan pedang2nya dan membunuhi para tawanan tsb. Seratus ribu kafir, penyembah berhala dibunuh hari itu. Maulana Nasiruddin Umar, seorang terpelajar dan bijaksana yang tadinya tidak pernah membunuh bahkan seekor burungpun, sekarang, atas perintahku, membunuh lima belas kafir Hindu yang menjadi tawanannya.

Nasib wanita2 Hindu yang ditangkap hidup2 oleh tentara Muslim ternyata jauh lebih buruk daripada mati. Bahkan sewaktu ayah2, suami2 dan anak2 mereka dibunuhi, mereka harus menari dan menyanyi di hadapan para Muslim dan lalu dibagi-bagikan sebagai budak kepada para raja, jendral, tentara Muslim.

Ini yang tercatat dalam kejadian biadab itu:
”Pertama-tama semua anak gadis dari raja2 Hindu yang tertangkap di tahun itu datang menghadap dan menari dan menyanyi. Kemudian mereka diserahkan kepada para Amir dan orang2 luar negeri yang penting. Setelah para gadis2 Hindu ini menari dan menyanyi … sang Sultan memberikan mereka kepada saudara2 prianya dan putra2 pembesar. Di hari ketiga sang Sultan juga membagi-bagikan para gadis ini kepada para jendral dan sanak saudaranya.”
[Sumber: Ibn Battuta (A.A.Rizvi in Tughlaq Kalin Bharath)]

Jadi para wanita Hindu lebih memilih mati daripada dihina seperti itu. Kebanyakan para tentara Muslim hanya menemukan sisa2 abu dari para wanita ketika masuk kota2 Hindu. Contohnya, ketika Allaud-din Khilji menyerang Rajput dari belakang (sebelumnya Rajout telah mengampuni nyawa Khilji), dan membantai orang2 Hindu dan masuk kota Chitoor, Rani Padmini (ratu Hindu) dan lebih dari 20.000 gadis2 membakar diri. Sampai hari ini masyarakat Hindu masih mengingat ratunya dengan penuh rasa bangga.
More Here : 
www.geocities.com/hindoo_humanist/medieval.html#Gaznavi


Politically Incorrect Guide to.. RIBUAN KATA
Sebuah gambar bermakna sama dengan ribuan kata.
Beberapa gambar2 dari Bangladesh: Semua korban adalah Bangladesh Hindu.
Foto2 diambil dari: http://hrcbm.150m.com/article/ranjan_article.html

Harga yang harus dibayar Rektor Perguruan Tinggi karena berani mengutarakan pendapat dan sebagai minoritas Hindu di Bangladesh.

Pria Hindu ini dibunuh ketika sedang tidur bersama istri dan putranya.

Buddhisme, Jainisme and Sikhisme berasal dari Hinduisme. 
Pemimpin2 agama2 ini disalib atau diasingkan. Sejarah kuno India menunjukkan bahwa terdapat banyak agama di waktu yang sama di anak benua itu. Toleransi agama telah menjadi norma di India sejak ribuan tahun.

Para penyerang Muslim Musalman menghancurkan Universita Buddha di Nalanda, Vikramshila, Jagaddala, Odantapuri dan tempat2 lainnya. Para tentara Muslim menghancurkan monastri2 Buddha sampai rata dengan tanah. Ribuan biksu melarikan diri ke Nepal, Tibet dan tempat2 lain di luar India. Banyak sekali yang dibunuh di bawah komando2 tentara Muslim.

Bhai Subeg Singh ji and Bhai Shadbaz Singh ji disiksa dengan "Roda Bergigi" atas penolakannya masuk Islam (th 1746). Keduanya meninggal sebagai martir Hindu.

Sejumlah besar barang jarahan dirampas, dan pembantaian terhadap “para Brahmana botak”, ini adalah julukan yang diberikan Muslim bagi biksu2 Buddha, sedemikian menyeluruhnya sehingga ketika pihak tentara Muslim mencari orang yang mampu baca buku2 di monastri2 itu, tidak ada seorang pun manusia yang mampu membacanya. Sekarang kita mendengar berita: “Telah ditemukan kenyataan bahwa seluruh benteng dan kota merupakan sebuah perguruan tinggi, dan dalam bahasa Hindi disebut Bihar.” Demikianlah besarnya pembantaian yang dilakukan para penyerang Muslim terhadap biksu2 Buddha. Agama Buddha dicabut sampai ke akar2nya. Dengan dibunuhnya para biksu2 Buddha ini, Islam pun membunuh Buddhisme. Ini adalah malapetakan besar bagi agama Buddha di India. Tapi saat ini orang mengira bahwa punahnya agama Buddha adalah karena pembantaian orang2 Buddha oleh orang2 Hindu, dan juga penghancuran kuil2 Buddha dikira dilakukan oleh orang2 Hindu.

Tidak dapat diragukan lagi bahwa punahnya Buddhisme di Indian semata-mata karena penyerangan yang dilakukan Muslim Musalman. Islam muncul sebagai musuh ‘BUT’ (bahasa Arab) yang artinya adalah BERHALA. Dalam pikiran Muslim agama berhala ini adalah agama Buddha. Bagi Muslim semua agama berhala adalah sama dan harus dihancurkan. Karena itu pulalah Muslim menghancurkan Buddhisme tidak hanya di India saja, tapi ke manapun mereka pergi. Sebelum Islam datang, agama Buddha tersebar di Baktria, Parthia, Afghanistan, Gandhar, Turkestan China, sebagaimanan agama Buddha tersebar ke seluruh Asia.

Takshasila: Universitas Pertama Terbesar Di Dunia
Universitas pertama di dunia dibangun di Taksashila di tahun 700 SM. Lebih dari 10.500 mahasiswa dari seluruh penjuru dunia mempelajari lebih dari 60 mata kuliah. Taksashila terletak di tepi sungai Vitasa di bagian Barat Daya anak benua India. Mata kuliah yang diajarkan adalah sains, matematika, kedokteran, politik, ilmu perang, astrologi, astronomi, musik, agama, dan filosofi. Pembatasan usia termuda adalah 16 tahun ke atas dan mahasiswa2 dari Babylonia, Yunani, Syria, Arabia dan China datang untuk belajar di univesitas itu.

Panini yang adalah ahli bahasa Sansekerta yang besar, Charaka yang adalah penulis berbagai laporan pengobatan, dan Chanakya yang adalah penulis Artha Shastra – inilah nama2 besar yang berhubungan dengan Taksashila. Para pemikir dari daerah2 yang jauh datang ke tempat itu untuk belajar tentang Weda dan segala cabang pengetahuan sekuler.

Takshasila atau yang disebut orang2 Yunani sebagi Taxila sejak 2.000 tahun yang lalu, adalah salah satu kebesaran budaya India. Kemegahanny tertulis di tulisan2 epik seperti Ramayana, Mahabharata dan Purana lainnya … Taxila dihancurkan oleh bangsa Hun di tahun 499 M.

Universitas Nalanda
Universitas Nalanda dibangun di abad ke 4 SM dan merupakan satu dari prestasi2 terbesar India kuno di bidang pendidikan. Buddha mengunjungi Nalanda beberapa kali di waktu hidupnya. Ilmuwan dan pengelana China Hiuen Tsang tinggal di tempat itu di abad ke 7, dan telah menulis kemegahan dan kemurnian kehidupan monastry di situ. Sekitar 2.000 dosen dan 10.000 mahasiswa dari seluruh dunia Buddha hidup dan belajar bersama di kota universitas internasional ini. Raja2 Gupta mendukung para monastry itu, membangun bangunan dengan gaya arsitektur Kushan kuno, dengan jajaran ruang2 sel di sepanjang halaman gedung yang dikelilingi tembok. Ashoka dan Harshavardhana merupakan beberapa dari pendukung2 terkemuka universitas ini yang juga membangun kuil2 dan monastry2 di sana. Penggalian baru2 ini menunjukkan struktur bangunan yang sangat kompleks di sana. Hiuen Tsang telah meninggalkan karya megah dalam bentuk arsitektur dan suasana universitas yang unik di masa lampau ini.

Nalanda, Vikramshila, Odantapura, dan Jagddala adalah universitas2 yang dihancurkan oleh Mohammed Bakhtiar Khilji sekitar 1200 M.

Universitas2 ini dihancurkan, dijarah, dan dirampok oleh penyerbu2 Islam.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
___________________________
________ ________

 "Semoga Para Pemuda Bangsa Setanah Air ku. Dapat Segera Melihat Kebenaran Ini"

Support By : 

Sejarah Masuknya Islam Ke Turki

 MASUKNYA ISLAM KE TURKI (BIZANTIUM)
http://www.historyofjihad.org/byzantine.html
Sementara Persia kalah dan di-Islamisasi, Muslim melanjutkan perhatian ke tetangga Persia; kaum Bizantin Kristen. (634-1453)

Pertempuran Heiromyak (Al Yarmuk)
Pada pertempuran di sungai Yarmuk antara Arab dan Bizantin, Arab kalah dalam bagian perang pada tahap pertama. Saat kemenangan hampir dekat bagi pihak Bizantin, Arab berganti taktik dan memanfaatkan kontingen wanita yang seperti kesurupan menyerang pasukan Bizantin sambil berteriak2 histeris dan meng-ululu (macam wanita Palestina)... Karena tidak terbiasa menghadapi musuh wanita, tentara Bizantin bingung, apalagi saat jendral mereka memerintahkan agar pasukan tidak menyerang wanita dan sebaiknya mengundurkan diri.

Ketika Muslim melihat bahwa taktik ini berhasil, mereka mengirimkan tentara Arab yang mengenakan pakaian wanita agar menyerang Bizantin. Salah seorang jendral Arab, Khalid-ibn-Walid, juga berpura2 sebagai wanita, mendekati dan menyerang sang Jendral Bizantin, Harbis, mematahkan tulang rusuknya dan membunuhnya. Dengan matinya jendral mereka, tentara Bizantin kehilangan pemimpin dan perang mulai dimenangkan pihak Arab. 
Inilah caranya mereka memenangkan perang Yarmuk.

Pertempuran Caesarea, Babylon (kota Bizantin Mesir), dan Alexandria
Taktik lain yang digunakan tentara2 Allah adalah dengan menyuap para penyapu jalan. 
Mereka itu memberitahu Muslim dimana letak saluran2 bawah tanah agar bisa dimasuki di malam hari, membuka gerbang dan menyerang kota itu. Taktik ini digunakan di Babylon (kota Bizantin Mesir, bukan di Mesopotamia). Kota dengan tembok2 setinggi 10 meter dengan menara2 tinggi yang sempat bertahan selama lebih dari 8 bulan, akhirnya diinfiltrasi Muslim secara licik dan berakhir dengan pembantaian setiap penduduknya, sampai tidak lagi ada yang tersisa.

Taktik pengikut Allah ini juga diterapkan di Caesarea, kota sibuk dengan lebih dari 300 jalanan sibuk. Kota ini merupakan kota pelabuhan, jadi serangan tidak bisa dilakukan dari bagian laut yang menghadap kota itu. Lagi2 pihak Arab menyuap para tukang sapu dan meng-infiltrasi lewat got2 kota itu. Ini menunjukkan bahwa Arab Muslim menghalalkan segala cara, termasuk merendahkan derajad mereka sedemikian rupa, demi kemenangan yang dibantu Allah.

Begitu pasukan Muslim menyerang kota Caesarea, mereka tidak hanya membantai semua tentara, tetapi memenggali kepala mereka, dan untuk menakut2i kaum wanita, 
mereka membelah dada tentara, mencabut jantung dan segala isi tubuh mereka yang kemudian dipertontonkan di jalanan.
Kebiadaban ini begitu membekas di ingatan kaum Bizantin Kristen selama berabad2. 
Saat perang salib membalas invasi Muslim pada abad 11 (1096- 1291M), para crusader membalas kekejaman Muslim dengan membakar tubuh tawanan dan bak kambing guling memakan daging Muslim saat tentara kekurangan suplai makanan.

Bagaimana Bizantin bertahan selama 8 abad 
sementara Persia jatuh di tangan Muslim dalam 17 tahun
Arab menyerang Konstantinopel dua kali, pada tahun 674 dan 717, namun kota itu berhasil dipertahankan dengan senjata baru bernama Greek Fire, Api Yunani. 
Ini adalah cairan panas yang mengakibatkan luka2 bakar menyakitkan bagi mereka yang dijadikan sasaran. Ini sama dengan senjata napalm jaman sekarang. 
Pihak Bizantin menggunakan senjata ini melawan invasi Arab pada tahun 674-678 dan 717-718. 
Pihak Arab mencoba keras untuk mempelajari rahasia Api Yunani itu tetapi tidak berhasil. Karena senjata ini, lebih dari 300.000 Arab yang menyerang Konstantinopel, dan hanya 20.000 yang kembali. Yang lainnya tewas akibat Api Yunani.

Bizantin juga berhasil membendung serangan Muslim di Cilicia di Turki Tenggara. Muslim2 Arab akhirnya memutuskan untuk mengambil rute laut dan menyerang pulau Rhodes dan menghancurkan patung raksasa Rhodes (patung yang didirikan orang Yunani jaman dulu). 
Masih ingat Taleban menghancurkan patung Budha Bameyan ? Persis sama kejadiannya !

Tongkat Jihad di-oper ke kaum Turki Seljuk
Jihad Arab kemudian patah semangat ketika pada tahun 732 di Poiters (Perancis) mereka dikalahkan kaum Franks. Serangan Arab berhenti pada pertengahan abad ke 8, ketika sesama kalif saling cekcok karena perbedaan shiah-sunni.
Jihad kemudian dimulai lagi pada abad ke 11 dengan diserahkannya tongkat jihad kepada Turki Seljuk. Mereka menganut kepercayaan animisme dengan campuran Zoroastrian sebelum di-Islamisasi oleh Persia (yang juga di-Islamisasi) antara thn 651 dan 751.

Ketika orang Persia yang di-Islamisasi itu menyerang Turki, muncullah nama seorang pendekar bernama Abu Muslim. Ia lahir dari orang tua Zoroastrian dan ia berpura2 memeluk Islam karena ingin balas dendam terhadap penjajah Muslim di Persia. Selain pura2 sebagai muslim, ia juga menyerang bangsa non-Muslim Turki dan malah memaksa mereka memeluk Islam. 
Langkah berikutnya adalah melakukan kudeta terhadap kalifah Abbasid di Baghdad. 
Tetapi ia difitnah oleh teman2 terdekatnya 
dan sang kalif memberi perintah agar ia disiksa sampai mati.
Begitulah mental berdarah Islam yang ditularkannya kepada rakyat2 yang dipaksa masuk Islam: dari Arab ke Persia, ke Turki dan lalu ke Bizantin.

Pertempuran Manzikert antara Bizantin dan Turki Seljuk
Pemeluk baru Islam ini mencampurkan keberingasan alami mereka dengan fanatisme Islam. Terbentuklah kombinasi maut. Kalau Arab gagal merebut Konstantinopel dengan mendobrak pagar Cilicia, kaum Turki Seljuk dengan pelan tapi pasti menggrogoti pinggir2 utara Bizantin di Armenia. Disana mereka memporakporandakan penduduk Kristen Armenia. 
Tirani berdarah Turki terhadap Armenia terulang kembali dalam abad berikutnya dan Turki tidak henti2nya menikmati pembantaian masal penduduk sipil Kristen Armenia.

Kawasan Caucasus (atau Kavkaz) ini bertubi2 menjadi garis depan tempat berlangsungnya bentrokan peradaban sejak saat itu sampai sekarang. Beslan di Russia bagian Ossetia, dimana anak2 sekolah dibantai teroris Muslim, tidak jauh dari Manzikert, tempat utama bentrokan antara Muslim-Kristen di tahun 1071.

Kaisar Bizantin ketika itu adalah Romanus IV Diogenes. 
Ia menduduki tahta tahun 1068. Seperti biasanya, terdapat banyak komplotan kekuasaan di Bizantin. Ini semakin nampak karena selama 400 tahun dari 640-1068, kaum Bizantin memperkuat angkatan bersenjata mereka dengan menyewa tentara2 bayaran dari kaum Franks, Ostrogoths, Visigoths, Bulgar, Avar dan masyarakat2 Kristen lainnya ditambah dengan kaum Latin yang selalu merupakan lobby kuat di Konstantinopel. Tentara2 bayaran ini digunakan untuk menangani serangan Arab, tetapi dalam masa damai mereka menjadi lobby2 kuat dalam politik dalam negeri Bizantin. Untuk menjaga keseimbangan politik, beberapa raja daerah bagian Bizantin mengikutkan dalam kontingen mereka tentara cadangan berupa 
ORANG2 SELJUK TURKI yang NOTABENE MUSLIM. 
Keputusan ini terbukti membawa celaka kepada Bizantin di Manzikert.

Romanus membagi pasukannya menjadi dua. Ia memimpin yang satu dan yang lainnya dipimpin oleh Joseph Tarchaniotes, orang keturunan Turki (!!) 
yang secara rahasia memeluk Islam, kepercayaan yang dianut kebanyakan rakyatnya – kaum Seljuk Turki. Tarchaniotes mengkomando kontingen tentara bayaran terbesar, kaum Cuman Turki. Romanus merebut kembali kota2 yang dijajah kaum Seljuk Turki yang akhirnya berpuncak kepada Pertempuran Manzikert.

Jendral tentara pihak Islam (pihak Seljuk Turki) adalah Alp Arslan yang bermarkas di dekat Manzikert. Romanus menunggu jendralnya (Si Joseph yang Turki dan Muslim itu) untuk menyerang markas Turki milik Alp Arslan itu. Tapi sang jendral Joseph Bizantin itu membelot ke pihak musuh bersama dengan pasukannya. Seperti juga pembelotan tentara Persia pada Pertempuran Qadissiyah antara Sassanid dengan Arab Muslim, ini sekali lagi membuktikan bahwa tentara Muslim TIDAK PERNAH AKAN SETIA PADA ATASAN NON-MUSLIM !

Dan kemenangan Muslim lagi2 dicapai dgn kecurangan. 
Saat matahari terbenam, kedua pasukan menarik diri setelah seharian bertempur. 
Pihak Turki membunyikan trompet mereka, menandakan pengakhiran sementara pertempuran. Namun etika pertempuran ini tidak diperhatikan Turki. Saat tentara Bizantin mengundurkan diri ke markas mereka untuk beristirahat, Turki menyerang mereka. 
Dan sebelum lonceng menandakan pukul 12 malam, Romanus sudah menjadi tawanan Alp Arslan.

Jendral Turki ini berjanji untuk melepaskan sang raja itu jika ia mengembalikan kepada Turki tanah2 Bizantin yang direbut Turki. Sang raja tidak memiliki pilihan lain dan terpaksa menarik tentaranya dari seluruh kawasan Anatolia sampai Konstantinopel. 
Ia hanya meminta agar Alp Arslan berjanji bahwa pihak Seljuk Turki tidak akan mengganggu penduduk sipil Bizantin. Romanus-pun kembali ke Konstantinopel sambil yakin bahwa Alp Arslan tidak akan mengancam perbatasan timur kekuasaannya.

Perjanjian antara Alp Arslan dengan Romanus ini menjadikan tanah Bizantin, Anatolia, sebagai wilayah Turki yang kemudian dikenal sebagai Turkestan (tanah orang Turki) atau Turki. 
Karena tidak lagi menghadapi tantangan akan infiltrasinya kedalam Anatolia yang Kristen, dalam beberapa dekade mereka berhasil merebut kekuasaan Anatolia dari Bizantin, dan mendekati Konstantinopel dari selat Bosporus. Merekalah yang sekarang berkuasa atas rute para peziarah Kristen lewat Anatolia ke Tanah Suci Yerusalem. 
Dan bisa ditebak, mulai lagi cerita2 teror Turki terhadap para peziarah Kristen. Berita ini sampai ke raja2 Eropa, bersama dengan permintaan bantuan para raja Bizantin dan mulailah perjuangan Kristen merebut kembali Bizantin dan Tanah Suci dari penjajah Muslim. Inilah asal mula Perang Salib yang dimulai pada tahun 1096 (dan berlanjut sampai 1291). Secara tidak langsung ini merupakan akibat Pertempuran Manzikert tahun 1071.

Pelajaran dari Pertempuran Manzikert dan jatuhnya Konstantinopel (1453)
http://www.historyofjihad.org/turkey.html
Kristen berhasil merebut kembali Antioch, Damascus, Jerusalem, Bethlehem, Nazareth dari tangan Muslim dan menyerahkannya kepada pemilik asli, Bizantin. Tapi kemudian di tahun 1184, para Salibi dikalahkan oleh orang Kurdi dan sekutu Turki bernama Saladin. 
Tetapi para Salibi masih bertahan sampai Konstantinopel pada tahun 1291 sampai pertengahan abad 14 dimana Turki dibawah dinasti Ottoman secara bertahap mendorong mundur Salibi. Serangan Muslin terhadap Bizantin berikutnya terhadap Konstantinopel terjadi tahun 1350 dan kemudian pada tahun 1453, saat Turki merebut Konstantinopel dan mengakhiri kerajaan Bizantin.

Sejarah: Pembantaian oleh Khalifah TURKI
http://www.debate.org.uk/topics/history/xstnc-6.html
Memanglah sudah menjadi tujuan bagi kaum Muslim Sunni untuk membangun kembali Khalifah yang dihapuskan oleh Kemal Ataturk pada 1924. Dalam konteks yang modern, ini berkaitan dengan cita2 para tokoh utama Islam untuk membentuk sebuah kekuasaan hegemoni Islam yang global dan bersatu. Tentu saja tidak bisa terhindarkan apabila dalam wilayah yang sangat luas itu akan ada beragam kaum minoritas agama lain. 
Muslim selalu ngotot menyatakan bahwa masyarakat non-muslim selalu diperlakukan dengan adil dan hormat oleh para pemimpin Muslim sejati. Oleh karena itu tulisan ini akan menyelidiki apakah klaim muslim tersebut benar demikian berdasar bukti2 sejarah Islam.

Karena di bawah kekuasaan Ottoman (Turki)-lah sebuah negara Islam sampai mencakup wilayah yang berpenghuni banyak orang Kristennya, dan sesungguhnya juga menjajah wilayah yang sangat besar di Eropa, kita akan membatasi tulisan ini kepada beberapa kejadian-kejadian penting dalam sejarahnya, khususnya setelah Khalifah terakhir dipegang oleh bangsa Ottoman Turki. Titik berat studi ini adalah untuk menyelidiki pembantaian-pembantaian yang dilakukan oleh Khalifah Ottoman Turki. Tujuan kita adalah pembuktian, jika memang hak asasi manusia yang paling mendasar, yakni hak untuk hidup, dengan seringnya dilanggar oleh Khalifah Turki, maka kaum Muslim yang ingin menghidupkan kembali Khalifah dan menggembar-gemborkan bahwa non-Muslim itu hidupnya damai sejahtera diperlakukan manusiawi di bawah kekuasaan Islam, mestinya mempunyai penjelasan yang lebih baik dari sekedar mengibuli.

1. Timbulnya Ottoman Turki dan Penaklukan Konstantinopolis (Istanbul sekarang)
Kaum Turki Osmanli atau Ottoman muncul sebagai sebuah kekuatan pada abad 14M, menggantikan Emirat Turki Seljuk Konya sebelumnya [1] 
Mereka adalah ‘…para Muslim fanatik…Para pemimpin suku mereka disebut sebagai Ghazi, pejuang pembela aqidah Islam. 
Menaklukan para kafir adalah bagi mereka sebuah kewajiban ilahi.’ [2] 
Sebab itu, ciri-ciri jihad bagi kaum Ottoman adalah sama saja baik offensive/menyerang maupun defensive, dan sudah menjadi keyakinan mereka bahwa non-Muslim harus ditundukkan oleh pedang. Pada 1354 mereka pun menduduki Gallipoli, dan lalu meluas ke seluruh jazirah Balkan, menaklukan bangsa Serbia pada Perang Kosovo 1389, lalu meneruskan penjajahan ke Bulgaria dan Thessalia, 1393. Ini berarti bahwa ibu kota Kekaisaran Byzantium 
(atau apalah yang tersisa daripadanya saat itu), 
Konstantinopolis, sekarang sudah terkepung. ‘Tutuplah gerbang-gerbang kotamu’ kata Sultan kepada Kaisar Byzantium Manuel II (1391-1425), 
‘aku toh sudah memiliki semuanya di luar kotamu’ [3]
Saat itu tinggal masalah waktu saja kapan Konstantinopolis akan diserang, dan di bawah kekuasaan Sultan Mehmet II yang enerjetik dan kejam, orang2 Ottoman mulai mengepung ibu kota Byzantium pada April 1453 – ini bahkan bertentangan dengan sumpahnya sendiri pada saat naik tahta sultan pada 1451, bahwa sultan bersumpah demi Al-Quran kepada duta besar Byzantium bahwa dirinya akan menghormati kedaulatan wilayah yang terakhir ini. [4]

Rupa-rupanya, sebuah sumpah kepada seorang ‘infidel/kafir’ adalah omong kosong belaka. Tidak ada alasan untuk berkata bahwa pengepungan Konstantinopolis merupakan sebuah bentuk jihad yang membela-diri, malahan, ini jelas adalah tindakan agresi yang sepihak. Mati-matian membela diri, kalah jumlah dan kalah senjata, kota itu akhirnya jatuh pada hari Senin 28 Mei 1453 
(atau sumber resmi lain: Selasa 29 Mei 1453). 
Harus dicatat di sini bahwa pada 6 April Sultan Mehmet II mengirimkan pesan kepada Kaisar Konstantin XI, tentang sebuah maklumat yang kemudian ditolak oleh Konstantin, ‘menyatakan bahwa, sebagai mana yang tertulis dalam hukum Islam, setiap warga kota akan dibiarkan hidup jika kota diserahkan tanpa perlawanan.’ [5]
Implikasi maklumat ini sangat jelas: jika kota melawan, jiwa para penduduk tentu akan terancam. Dan memang inilah yang terjadi pada saat kota itu jatuh pada hari Selasa 29 Mei 1453, pasukan-pasukan Muslim membantai, menjarah, dan memperbudak masyarakat Kristiani dalam jumlah yang sangat besar [6] Kenyataan ini, yang jarang disebutkan oleh para Muslim pada saat mereka merayakan event kemenangan mereka, memperlihatkan betapa tertanamnya nilai pembantaian dan penindasan di dalam Khalifah Ottoman, dan wajar saja beralasan bagi non-Muslim untuk was-was prihatin kapan pun mereka mendengar Muslim bernostalgia mengenang ‘kejayaan’ masa lalu mereka. Mehmet II lalu memasuki gereja agung Agia Sofia, kathedral utama kaum Kristen Timur, alih-alih dari menghormati integritas religinya, dia malah mengislamkanya, mengubahnya secara resmi jadi masjid (sekarang namanya Aya Sofia di Istanbul). Menjelang abad ke-16, seluruh Balkan sudah dijajah oleh penguasa Muslim.

2. Kebebasan dan Harga Diri Kaum Nasrani di bawah Kekuasaan Turki Ottoman
Gambarannya memang tidak melulu gelap. Bangsa Turki memang mengizinkan kaum Kristen Orthodox Yunani sebuah hak otonomi internal untuk mengatur sendiri urusan-urusan sosial dan agama mereka – konsep Millat namanya. 
Sultan sering mengangkat seorang Yunani sebagai Grand Vizier (Wasir Agung), dan panglima dari Angkatan Laut Ottoman seringkali adalah seorang Yunani [7]. 
Namun bagaimana pun, status kewarganegaraan penuh hanya diperuntukkan bagi mereka yang memeluk Islam. Sultan seringkali ikut campur dalam hal pemilihan ketua gereja Orthodox (patriarch), dan bahkan bisa-bisanya mengatur urusan mereka. 
Pada waktu-waktu tertentu, beberapa patriarch malah dieksekusi mati. Tidak ada kebebasan beragama penuh ataupun persamaan hak.

Salah satu yang praktek2 yang paling meyakinkan untuk mempertanyakan Keagungan Khalifah Ottoman yang ‘katanya’ merupakan Masa Keemasan bagi kaum minoritas agama lain adalah rekrutmen/caranya merekrut Janissariyah (pasukan khusus Ottoman), yang dimulai pada abad 14.’ …mereka secara paksa merampas anak-anak lelaki dari keluarga Kristen yang diperbudakkan (umumnya dari keluarga orang Yunani, tapi lalu juga dari bangsa2 Armenia, Bulgaria, Albania, dan Serbia), dan membesarkan anak2 ini dalam sebuah kamp khusus. 
Mereka lalu melatih anak2 ini menjadi Turki fanatik, penjagal2 berdarah dingin terhadap keluarga mereka sendiri. Anak2 ini dibesarkan untuk mempercayai bahwa ayah mereka adalah sang Sultan dan jika mereka sampai tewas di medan perang berarti mereka masuk surga. 
Jadi, karena Angkatan Perang baru ini, Janissariah (Yeni-ceri bahasa Turkinya) orang2 Turki melanjutkan penaklukan2 mereka.’ [8]

Pasukan2 Ottoman lalu menyerang desa-desa Kristen, menculik anak2 kecil, yang kemudian dibawa ke Konstantinopolis sebagai serdadu-budak, dan secara paksa di-Islamkan. 
Mereka ini dilarang berhubungan dengan wanita, kecuali saat mereka menyerang kota atau desa musuh, itulah saatnya diperkenankan untuk menjarah dan memperkosa sepuasnya selama tiga hari berturut-turut. Hal ini berlanjut terus sampai 1700, setelah keanggotaan lambat laun berubah menjadi tradisi turun-temurun, dan akhirnya berakhir dengan penghapusan Janissariyah, setelah timbul sebuah pemberontakan. Anak-anak orang Nasrani lainnya masih saja diculik untuk dijadikan budak sebagai pembantu-pembantu istana, kasim, dan gundik (harem). 
Praktek-praktek macam inilah yang meninggalkan kenangan pahit bagi penduduk Balkan dan Armenia tentang masa penjajahan Muslim yang berabad-abad itu.

Praktek/kebiasaan2 ini tentulah akan menjadi budaya di Eropa Barat juga jika saja pengepungan Ottoman terhadap Vienna tahun 1683 itu sampai berhasil dengan kemenangan. 
Lagi-lagi, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa ini adalah jihad membela diri. Inilah agresi sepihak. Tindakan Ottoman menyerang Austria mulai membuat orang Eropa sadar akan apa yang akan menimpa mereka jika sampai Khalifah berhasil memperluas wilayahnya sampai menguasai seluruh Eropah. Anggota2 pasukan Ottoman ‘membakar habis desa-desa, memperbudak kaum wanita dan anak-anak, dan kaum lelaki yang trampil. Yang sakit dan yang tua mereka penggal. Mereka membumiratakan gereja2 dan menginjak2 lambang2 salib di tanah.’ [9]
Mereka sibuk ‘membakar, memperkosa, menjagal, memperbudak…’ [10]. 
Harus diingat bahwa pasukan Muslim ini dipimpin oleh Wasir Agung sendiri, Kara Mustafa. 
Sulit untuk dimengerti bagaimana perilaku2 semacam itu bisa dianggap sesuatu yang membuat orang tertarik kepada Islam.

Diskriminasi terhadap kaum Nasrani terus berlanjut berabad-abad di bawah pemerintahan Khalifah Ottoman. Sebuah contoh akan hal ini ditemukan di dalam perjanjian damai yang mengakhiri Perang Krimea 1854-56. Perang dimulai dari pertengkaran antar Rusia dengan Khalifah Ottoman. Kesepakatan diulangi oleh Perjanjian Paris pada Maret 1856. 
Biasanya perhatian utama diberikan kepada pasal Inggris dan Prancis yang melarang kapal perang Rusia di Laut Hitam. Perhatian yang lebih kecil difokuskan pada Artikel 9 dari Kesepakatan itu, yang mengharuskan Khalifah Ottoman memperlakukan penduduk dengan adil ‘tanpa membedakan agama atau ras’. Ini membuktikan bahwa Khalifah Ottoman memang benar2 terlibat dalam sebuah upaya pen-diskriminasi-an yang sistematik. Alih-alih dari menghormati kesepakatan damai, Khalifah ini malah mengeluarkan sebuah maklumat pada tahun yang sama yang mewajibkan kaum non-Muslim untuk mendapatkan izin dahulu dari sang Khalif sendiri kalau ingin membangun atau memperbaiki tempat2 ibadah. Secara effektif, ini berarti sebuah kelanjutan dari prinsip2 hukum Syari’ah Islam, dan suatu pelanggaran dari Kesepakatan Damai Paris.

Tidak hanya kebebasan kaum Nasrani yang dibatasi oleh Khalifah, harga-diri kaum Kristen ini juga sering kali diinjak-injak. Sampai menjelang Perang Besar dan pembersihan etnis 1915, orang2 Nasrani Armenia mendandani anak2 perempuan mereka supaya kelihatan seperti anak2 lelaki agar jangan sampai diperkosa atau diculik (atau dua2nya) oleh Muslim2 Ottoman. Faktanya, setiap bocah berada di bawah bahaya penculikan. Sebuah contoh yang khas dari kedengkian Muslim Ottoman terhadap orang Kristen diperlihatkan oleh bukti dokumen izin-pemakaman yang dikeluarkan oleh seorang qadi (penggawa/lurah Muslim) dalam 1855 yang diperuntukkan bagi seorang Nasrani yang wafat: ‘Kami menyatakan ini kepada pendeta gereja Maryam, bahwa bangkai si Saideh yang najis, busuk, dan bau, terkutuklah hari ini, sudah boleh dimakamkan.’ [11] Tidak diragukan lagi, jika sentimen2 yang tertulis sedemikian itu dimaksudkan untuk satu saja jasad Muslim, Muslim akan mengganggap ini sebagai kebencian dan tidak berprikemanusiaan; jadi tidak sepantasnyalah mereka kaget jika lalu orang2 Nasrani pun bisa bereaksi sama, dan sulit untuk meng-iya-kan Khalifah sebagi sebuah rejim-pemerintah idaman.

3. Pembantaian-pembantaian oleh Khalifah
Menjelang abad 19 kekaisaran Ottoman memudar, dan gerakan2 ke arah kemerdekaan mulai bermunculan di antara bangsa2 Balkan. Masa ini adalah cikal-bakal nasionalisme modern, dan ada suatu keinginan besar di antara orang2 Nasrani Balkan untuk membebaskan diri mereka dari para penjajah Turki (dan dalam hal bangsa Romania, dari penguasa Phanariot Yunani yang dipakai Ottoman sebagai kaki-tangan mereka). 
Namun, nasionalisme saja tidak cukup untuk memotivasi Eropa 
untuk membebaskan diri dari Turki. 
Sebagai Kristen, orang2 Balkan paling tinggi derajatnya hanya sebagi warga kelas dua – barang rendahan, tidak punya persamaan derajat beragama. 
‘Orang-orang Nasrani, sungguh, dijauhkan dari posisi politik, diwajibkan membayar sebuah pajak khusus [Jizyah] dan pelan-pelan dimusnahkan/dibasmi secara sistematis.’ [12]

3.1 Perlawanan Yunani
Kekalahan2 Ottoman di tangan bangsa Polandia dan Austria di 1683, dan dalam beberapa kesempatan selanjutnya oleh orang2 Rusia, dan pendudukan sementara Morea oleh orang2 Venesia pada masa 1690an sampai 1718 membuktikan bahwa Khalifah itu bukanlah super-jagoan tanpa tanding. Percobaan2 pertama membebaskan diri oleh bangsa Serbia dipimpin oleh Kara George pada 1804. Perlawanan berhasil, namun kekuasaan Ottoman terbentuk kembali pada 1813. Perlawanan lainnya pada 1815 di bawah Milosch Obrenovitch menjadikan Serbia mendapatkan hak otonomi, dan bahkan dirinya diberi gelar ‘Pangeran Serbia’ oleh Sultan. [13] Tonggak sejarah utama, yang memulakan runtuhnya Ottoman adalah perjuangan-kemerdekaan Yunani pada 1821. Sejak zaman kebudayaan klasik Yunani, komunitas2 Yunani telah mendiami daerah2 sekitar Laut Hitam, termasuk wilayah2 yang dikuasai oleh Rusia pada abad ke-18. Asisten Militer untuk Tsar Rusia 1821 adalah seorang Yunani, 
Pangeran Hypsilanti, yang juga adalah pemimpin dari kelompok rahasia nasionalis Yunani yang disebut Etairia Filiki - ‘Perkumpulan para Sahabat’, yang didirikan pada 1814 di Odessa, 
memiliki 20,000 anggota, dan beroperasi di wilayah2 berpenduduk Yunani di dalam Kekhalifahan Ottoman. [14]
Perlawanan dimulai secara setengah2, ketika Hypsilanti dan sekelompok orang Yunani melintasi Moldavia pada bulan Maret 1821, dan mendorong penduduk Orthodox untuk bangkit melawan penjajah Ottoman. Namun, bangsa Romania, walaupun Orthodox, bukanlah Yunani, dan tidak senang akan keunggulan orang Yunani dalam Kekhalifahan, dan konflik antara orang2 Yunani dan Romanian pun timbul. Jujur saja untuk dituliskan bahwa 
Hypsilanti dan pengikutnya pun pernah berperangai sejahat bangsa Ottoman yakni waktu mereka membantai sebuah komunitas Muslim lokal. [15] 
Karena latar belakang inilah, tidak heran jika pada bulan Juni di Skaleni para pejuang dikalahkan oleh kaum Ottoman.

Bagaimanapun, kejadian2 di Moldavia itu akhirnya memicu kebangkitan besar dari bangsa Yunani di Morea bersumber dari pengaruh Etairia Filiki . 
Namun sayang, sekali lagi orang Yunani menodai perjuangan mereka dengan membantai komunitas 25,000 Muslim dalam waktu enam minggu setelah pecahnya perlawanan. Kaum Ottoman pun membalas dendam dengan membantai bangsa Yunani yang ada di Thessalia, Makedonia, dan di pulau-pulau Aegean. 
Di salah-satu pulau ini, yaitu Chios, Ottoman menghabisi nyawa 27,000 Nasrani, termasuk kaum wanita dan anak-anak. [16]

Hampir seluruh orang Nasrani di pemukiman Yunani di Konstantinopolis tewas dijagal. [17] 
Pada Hari Paskah 1822, Patriarch Orthodox di Konstantinopolis digantung oleh Turki Ottoman, dan jenazahnya lalu dilemparkan ke selat Bosphorus, 
akhirnya ditemukan oleh sebuah kapal Yunani dan dibawa ke Odessa, di mana Patriarch akhirnya dimakamkan di sana sebagai martir. [18]

Pembunuhan Patriarch merupakan sebuah perhitungan yang sangat keliru dan mengundang bencana bagi Khalifah, kemuakan yang besar tersebar di mana-mana di Eropa, dan Rusia mengancam akan turun tangan. Hal kemerdekaan Yunani kini menjadi buah-bibir masyarakat Eropa yang prihatin melihat sesama saudaranya Nasrani ditindas, dibantai dan tawanan2 Kristen Yunani dijual sebagai budak di Mesir. [19] 
Kesalehan beragama Raja Charles X dari Prancis membawanya untuk mendukung perjuangan kaum Nasrani Yunani. Pujangga terkenal Inggris, Lord Byron, sebagaimana banyak orang Eropa lainnya, menjadi sukarelawan berjuang bersama-sama orang Yunani, dan gugur di sana. 
Di sisi lain, banyak Muslim mengikuti panggilan jihad melawan kafir yang dikumandangkan oleh Khilafah pada bulan Maret 1821.

Kemenangan2 militer, terutama angkatan laut Yunani menyebabkan Khalifah mencari bala bantuan Muhammad Ali, wakilnya di Mesir, supaya turun tangan dengan armada Mesirnya, dia dijanjikan wilayah2 Morea, Kreta, dan Lebanon. Putra Muhammad Ali, Ibrahim, mendarat di Pulau Kreta di mana populasi pada waktu itu kurang-lebih sepertiganya Muslim, dan mulai membantai masyarakat Nasrani yang mayoritas. Seperti itu juga, ketika pasukan2 Ibrahim mendarat di Morea, ‘mulailah mereka menyapu bersih penduduk Yunani.’ [20] 
Haruslah dinyatakan di sini bahwa inilah perintah Khalifah, yang didesak oleh para ulama Muslim, bahwa ‘para pemberontak harus diperangi secara terbuka dan dihabisi oleh pedang, harta-milik mereka harus dirampas dan anak-istri mereka harus dihabiskan, dijadikan budak’ [21]. 
Seperti yang telah kita lihat, baik perbudakan maupun genocide (pemusnahan massal) sebenarnya memang telah terjadi – ‘seluruh populasi penduduk Yunani daratan terancam oleh kepunahan massal’ [22].

Pemusnahan massal dan ancaman campur-tangan Russia akhirnya menyebabkan the Great Powers (Sekutu), yang dipimpin oleh Inggris, turun tangan dalam pertempuran di Navarino pada 1827, yang mana mereka menghancurkan armada2 Ottoman dan Mesir, dan memberikan jalan bagi pasukan2 Prancis untuk menyerbu Morea, sedangkan pasukan2 Rusia maju ke daerah Trachea. Haruslah dinyatakan di sini bahwa sebelumnya ini terjadi, Sekutu (The Powers) telah menawarkan kepada Ottoman kesepakatan untuk membiarkan Ottoman Turki tetap berkuasa secara simbolik dan Yunani sebagai daerah jajahan dengan status otonomi penuh, tetapi sang Khalifah, yang kukuh dengan prinsip Islamnya akan hal menundukkan kaum non-Muslim, menolak tawaran tersebut. Kesalah-perhitungan ini akhirnya membawa Sekutu untuk memperjuangkan kemerdekaan penuh Yunani di tahun 1832.

3.2 Pembantaian-pembantaian Khilafah dari 1840-1860
Fakta, bahwa kejadian pembunuhan massal (genocide) yang berulang-ulang yang akhirnya membawa intervensi Barat dalam urusan2 Ottoman, akhirnya meruntuhkan pula Negara itu. 
Pada 1842, Muslim terlibat dalam pembantaian2 berikut:

Badr Khan Bey, seorang pemimpin (Amir) Kurdi Hakkari, bersama2 dengan pasukan2 Kurdi lainnya yang dipimpin Nurallah, menyerang orang2 Assyria, bermaksud untuk membakar, membunuh, menghancurkan, dan, jika mungkin, memunahkan seluruh bangsa Assyria dari daerah2 pegunungan. Kaum Kurdi yang ganas ini melumatkan dan membakar apa saja yang mereka temui. Pembantaian tanpa pandang bulu terjadi. Para wanita dibawa ke hadapan sang Amir dan dibantai dengan darah dingin. Insiden berikut ini menggambarkan betapa buasnya perbuatan mereka: ibunda Mar Shimun, Patriarch (Bapa Gereja Timur) yang sudah berusia lanjut, ditangkap oleh mereka, dan lalu setelah melakukan hal-hal biadab yang luar biasa memuakkan kepadanya, mereka membelah tubuhnya menjadi 
dua bagian dan melemparkannya ke sungai Zab, seiring dengan seruan 
“pergilah dan bawalah ke putramu yang terkutuk itu pengetahuan bahwa nasib yang sama sedang menunggunya.” 
Hampir sepuluh ribu orang Assyria dibunuh, dan sejumlah yang sama banyaknya dari kaum wanita dan anak2 dibawa sebagai tawanan, hampir seluruhnya dikirim ke Jezirah untuk dijual sebagai budak2, untuk dipersembahkan sebagai hadiah2 bagi tokoh-tokoh Muslim yang berpengaruh. (Death of a Nation, pp. 111-112). [23]

Kejadian yang sama berlangsung tahun 1846. [24] 
Dalam kedua kasus tersebut tidak pernah sekalipun Pemerintah Ottoman maupun aparat2 keamanannya turun tangan untuk mencegah pembantaian2 atau menghukum para pelaku pembunuhan, suatu tanda bahwa mereka justru gembira dengan perbuatan2 tsb, jadi membuat pemerintahan Khalifah sebagai oknum pembantu kriminal pembantaian massal. Pada 1847, pasukan2 Muslim membantai lagi 30,000 anggota komunitas Nasrani Assyria. 
Sebagai satu contoh telak betapa bersekongkolnya Pemerintah dalam pembantaian2 kaum Nasrani bermula dari individual Muslim terjadi di Lebanon dan Syria pada 1860, yang mana akhirnya hanya bisa dihentikan lewat campur tangan pasukan2 Perancis:

Di Lebanon, dari April sampai Juli, lebih dari 60 desa di Al-Matn dan Al-Shuf dibumihanguskan oleh kaum Druze dan pasukan2 Kurdi. Menyusul kemudian kota2 besar. Komandan garnisun Ottoman menawarkan lagi perlindungan kepada penduduk Maronite (Kristen), seperti yang telah ditawarkannya kepada desa2 yang lebih kecil, meminta mereka menyerahkan senjata dan lalu menyembelih mereka di penginapan padang pasir lokal. Begitulah nasib dari Dayr al-Qamar, yang kehilangan 2600 penduduknya; Jazzin dan sekitarnya, di mana 1500 dibantai; Hasbayya, 1,000 dari 6,000 disembelih secara keji; Rashayya, 800 tewas. Perintah komando bagi Hasbayya yaitu semua laki-laki di antara 7 sampai 70 tahun harus disembelih. Mata buas mereka berpesta-pora menyaksikan mayat-mayat muda dan tua yang mereka sembelih dicabik-cabik di pekarangan istana Shihabi. Zahla, kota terbesar di antara semuanya dengan 12,000 penduduk, bertahan sementara waktu sampai akhirnya harus tunduk di bawah serbuan pasukan termasuk kaum penyerang dari Harwan dan suku2 Beduin dari padang pasir. 
Kota itu terletak nyaman di lembah yang curam terbentuk oleh jalur Bardawni yang mengalir dari Gunung Sannin. Tidak satu rumahpun lolos dari amukan api. Total hilangnya jiwa dalam masa tiga bulan dan rentang jarak beberapa kilometer diperkirakan mencapai 12,000. Dari Lebanon api kebencian menjalar ke Damascus dan menyulut tangki kedengkian Muslim yang terbentuk oleh kebijakan Ibrahim Pasha dan hukum2 egalitarian Khatti Humayyun. Wilayah pemukiman Assyrian dibakar dan sekitar 11,000 penghuninya disembelih. [25]

3.3 Pembantaian-pembantaian Balkan 1870an
Di Bosnia-Herzegovina, para petani di pedesaan Kristen masih tinggal di bawah sistem penghambaan, dan dibebankan atas mereka pajak2 yang berat oleh Khalifah, yang tidak berlaku untuk para Muslim. Penduduk Balkan menderita oleh panen gagal tahun 1874, kelaparan menimpa mereka, namun Turki Ottoman, jauh dari itikad menolong mereka, masih saja menuntut pajak2 – sekali lagi, ini dipengaruhi oleh Syari’ah Islam. [26] 
Himpitan-tekanan bathin ini akhirnya meledak pada 1875, orang Kristen Bosnia-Herzegovina memberontak terhadap Khilafah. Perlawanan menyebar sampai ke Serbia dan Montenegro, yang telah berstatus otonomi sejak 1829 meskipun masih bersujud kepada Ottoman. 
Segera saja perjuangan menyebar juga ke Bulgaria, yang belum diberikan hak pemerintahan sendiri di bawah Khilafah, karena adanya komunitas2 besar Turki dan Muslim di sana dan jaraknya yang dekat ke ibukota Istanbul.

‘Sultan yang baru naik tahta, Abdul Hamid II (dikenal dalam sejarah sebagai “Red Sultan”) tidak berkompromi sedikitpun dengan para pemberontak.’ [27] 
Kebijakan Khalifah adalah pemusnahan massal (genocidal): ‘seluruh desa diluluhlantakkan, penduduknya disembelih. 
Penghuni penjara2 Bulgaria ditembak mati setelah lebih dulu disiksa dengan sangat biadab.’ [28] 
Antara April sampai Agustus 1876 ribuan warga Nasrani Bulgaria secara mengerikan dibantai oleh pasukan2 Khalifah – dalam satu bulan Mei saja 12,000 laki2, perempuan, dan anak2 disembelih dengan brutal. [29] Sekutu mencoba membujuk Khilafah dengan menawarkan perjanjian Andrassy (berdasarkan nama seorang menteri Hungaria), menawarkan proposal untuk mereformasi kebijakan2 Ottoman, yang mana secara pura-pura diterima oleh Sultan. 
Kaum Nasrani Balkan,bagaimanapun, sudah kenyang dengan pahitnya pengalaman, tidak percaya lagi dengan janji-janji Turki Ottoman yang tidak didukung oleh jaminan penuh dari Barat.

Sekutu, dengan pengecualian Inggris, saat itu mengirimkan Memorandum Berlin kepada Kalifah Ottoman, dengan ancaman akan turun tangan membantu perlawanan Balkan apabila tawaran reformasi tidak juga dilaksanakan dalam dua bulan. Namun, tanpa hadirnya Inggris, Ottoman merasa di atas angin untuk menghiraukan saja tawaran tersebut. 
Russia bersiap-siap untuk menyerbu Khalifah Ottoman, tetapi ini dicegah oleh sebuah konferensi international di Konstantinopolis di mana Abdul Hamid II menyetujui reformasi konstitusional, yang diajukan oleh menterinya, Midhat Pasha, yang berpandangan liberal, yang mana dimasukkan juga di situ perlakuan2 yang lebih manusiawi bagi orang2 Kristen/Nasrani. Namun juga, segera saja setelah konferensi dibubarkan, Midhat Pasha dicopot dan dibunuh beberapa waktu kemudian. Undang2 yang baru itu segera juga dicabut kembali, bersama dengan jaminan2 perlindungan bagi umat Kristiani. [30] Ini menunjukkan bahwa penganiayaan atas umat Kristiani memang akan terus-menerus terjadi selama masih ada Khalifah di bumi ini.

Akhirnya, kelicikan dan pengkhianatan janji Ottoman menghasilkan penyerbuan Russia-Romania, dan puncaknya Inggris campur-tangan, membawa hasil akhir Perjanjian Berlin 1878 yang mengakui kemerdekaan total dari Serbia, Romania, dan Montenegro, sedangkan Austria mengambil-alih Bosnia dan daerah Sandjak dari Novibazar. Bulgaria mendapatkan hak pemerintahan sendiri, dengan Rumelia timur, yang berbatasan dengan Thrakia timur, selalu harus diperintah oleh seorang Gubernur yang Kristen. [31] 
Perang telah membuat Khalifah kehilangan banyak sekali wilayah di Eropa, inilah masa untuk bersuka bagi para umat Kristiani Balkan. Namun demikian haruslah diakui juga, bahwa di negara2 Balkan yang baru saja merdeka setelah 1878 itu terdapat rasa benci dan perlakuan kejam terhadap kaum penduduk Muslim mereka, sama seperti yang dilakukan Khalifah terhadap umat Kristiani, dan sebagai hasilnya, banyak umat Muslim setelah sering menerima penganiayaan, hijrah ke Kesultanan Ottoman.

Kerugian yang lebih besar lagi bagi Khalifah Ottoman ialah hilangnya dukungan Inggris. Khabar2 mengenai pembantaian2 orang Bulgaria disambut dengan kemurkaan massa. Perdama Menteri, Disraeli, karena kuatir akan rencana2 expansi Russia, membantah berita2 pembantaian itu sebagai propaganda semata – ‘gossip warung kopi’ katanya. Namun pemimpin oposisi, Gladstone, menuliskan sebuah pamflet yang terkenal dengan judul The Bulgarian Horrors and the Question of the East , yang sangat laku terjual. Untuk sementara waktu, Khalifah Ottoman dianggap sebagai sumber kejijikan seperti orang memperlakukan Nazi Jerman sekarang. Situasi ini masih saja diperparah oleh tindakan2 Sultan-Khalifah Abdul Hamid yang melanggar janji2nya sendiri tentang perlakuan manusiawi untuk umat Kristiani yang dia tandatangani di Kongres Berlin. [32]

3.4 Pembantaian-pembantaian tahun1890an
Di sisi lain, Turki Ottoman terus saja membantai seluruh komunitas Kristiani, kejadian yang paling menonjol adalah pembantaian antara 1894-96 di mana ribuan umat Kristiani Armenia dan Assyria – lebih dari 300,000 – dibantai secara brutal dimulai gara-gara keinginan Sang Sultan Merah Abdul Hamid II. Jerman telah memberinya angin untuk melawan setiap reaksi Eropa, dan ternyata dia betul. Enam ribu umat Kristiani Armenia dibunuh hanya Konstantinopolis saja. [33] Di Inggris, Gladstone berhenti dari istirahat untuk menuntuk tindakan melawan Ottoman, dan Pemerintah Inggris memang berusaha membujuk Sekutu untuk melakukan sesuatu, namun tidak ada tindakan nyata. [34] Menghadapi partisan2 nasionalis di Makedonia, provinsi Eropa terakhir yang masih di bawah kontrol penuh Ottoman, pasukan2 Turki membablas tanpa rintangan. Diperhadapkan dengan perlawanan di Pulau Kreta pada 1897, 
pemerintah Turki bukan saja menekan pemberontakan tapi juga maju berperang melawan Yunani, mengalahkan musuh lama itu, hanya kemudian Sekutu turun tangan dan menuntut pengangkatan Gubernur yang Kristiani untuk pulau tersebut.

3.5 Pembantaian massal 1915 (yang terkenal dan ditutup-tutupi sampai sekarang)
Pada 24 April 1915 pemerintah Ottoman memerintahkan pengusiran (deportasi) seluruh penduduk Kristiani Armenia dan Assyria di Asia Minor Timur ke Syria dan Iraq, yang masa itu masih menjadi bagian Kekhalifahan Ottoman, dan membantai banyak jumlah dari mereka. 
Pembantaian berlanjut sepanjang tahun. Menjelang 1915, 1,500,000 orang Armenia dan 250,000 Assyria telah hilang nyawanya. Banyak kaum wanita diperkosa dan anak2 diculik dan dijadikan budak untuk lalu dibesarkan sebagai Muslim. Banyak umat Kristiani – terlebih kaum perempuan – disalib (gambar2 fotografi masih ada sampai sekarang).

Sekitar 200,000 orang Armenia lolos dari pembantaian/pembersihan etnis dengan cara masuk memeluk Islam. Seluruh desa masuk Islam demi menghindari pembantaian. Gereja2 dihancurkan atau dikotori dengan cara diubah menjadi lumbung2 tani. Upaya-upaya serius dilakukan untuk menghancurkan setiap jengkal jejak-jejak warisan budaya Kekristenan di wilayah2 bersangkutan. ‘Dalih’ Ottoman untuk membenarkan perbuatan mereka adalah bahwa orang2 Armenia adalah pilar kelima dan bahwa ada orang2 Armenia yang menjadi tentara Russia. 
Mereka tidak peduli kenyataan bahwa orang2 Armenia Rusia itu tidak punya banyak pilihan, bahwa ada orang2 Muslim Turki juga yang menjadi tentara Russia, dan bahwa orang Assyrian ada sangat sedikit kalaupun ada yang bergabung dengan tentara Russia. Pada 1914 orang2 Armenia Ottoman menyatakan kesetiaan mereka kepada negara, meski ada pembelotan2 yang terisolasi dan sebuah perlawanan kecil di Cilicia. Ottoman secara salah menuduh bahwa ada pemberontakan di Van, dan bahwa ada pembunuhan dalam konteks perang saudara. 
Pernyataan ini jelas salah, karena 250,000 orang Armenia tergabung di dalam angkatan perang Ottoman. Bahkan, prajurit2 Armenia menyelamatkan seorang pemimpin Ottoman, Enver Pasha, yang hampir ditangkap tentara Russia ketika kalah berperang. [35]

Hampir semua pembantaian dilakukan oleh polisi biasa, meskipun ada sebuah ‘Organisasi Khusus’ yang dibentuk, terdiri atas penjahat2 yang dibebaskan dengan syarat mereka harus membunuhi orang2 Armenia. [36] 
Lebih lanjut, bahkan kaum Armenia Rusia pun dibantai ketika Ottoman menyerbu 1918 – 15,000 bangsa Armenia dibunuh di Baku. Pengungsi2 Armenia dibuat sebagai objek latihan bayonet. [37] 
Harus dicatat juga dengan jujur juga bahwa banyak desa2 Arab di Syria yang menolong para pengungsi Armenia, dan beberapa pejabat ulama Muslim 
melakukan protes mengenai kebijakan2 ini. [38] 
Turki sampai sekarang masih membantah kenyataan sejarah mengenai genocide mereka. Hitler melihat ini seolah sebagai alasan untuk membenarkan perbuatannya, bahwa dunia toh tidak mempedulikan pembantaian umat Armenia oleh bangsa Ottoman, jadi dunia juga akan membiarkan saja dirinya membinasakan kaum apa saja yang dia mau binasakan.

KESIMPULAN
Pembantaian2 kaum Muslim yang dilakukan oleh bangsa Yunani tahun 1821 yang lalu dilakukan juga oleh bangsa2 Balkan lainnya saat mereka mendapatkan kemerdekaan tidak dapat dibenarkan, seperti halnya juga yang dilakukan oleh umat Muslim terhadap umat Kristiani. Namun, di sini ada sebuah hal yang membedakan antara kejahatan yang dilakukan oleh bangsa Yunani dan Balkan pada abad ke-19 dengan kejahatan yang dilakukan oleh Khalifah. Pembantaian2 yang dilakukan oleh orang Yunani menodai Nasionalisme Yunani, daripada sekedar kekristenan mereka; kejahatan2 itu dilakukan atas nama Nasionalisme mereka, bukan dari agama-nya. Lebih jauh lagi, orang2 Yunani saat itu bukanlah mewakili sebuah pemerintahan, melainkan hanya sekelompok pejuang pemberontak (tentu saja, ini tidak berlaku bagi pembantaian2 yang terjadi kemudian setelah provinsi2 Balkan menjadi negara2 merdeka). Pembantaian2 yang dilakukan Khalifah di sisi lain, memiliki ciri-ciri yang berbeda. 
Bahkan orang2 Yunani tidak pernah meng-klaim suatu inspirasi ilahi dari Nasionalisme Yunani mereka, dan sedikit saja sekarang yang kira2 masih akan membenarkan pembantaian2 itu. Muslim, sebaliknya, yakin seyakin2nya bahwa Khalifah itu ada atas ridho Allah dan bahwa jihad itu memang sesuatu yang terinspirasi secara ilahi. Pembantaian2 mereka dilakukan atas nama Khalifah dan jihad.

Lebih lanjut lagi, Khalifah itu dulu adalah bagaimanapun sebuah pemerintah yang resmi berkuasa atas bangsa2 Yunani dan Balkan lainnya; seharusnya tugasnya adalah untuk melindungi, bukan untuk berusaha memusnahkan warganya. 
Sehingga terbentuklah dua masalah besar bagi umat Muslim sekarang yang mengidam2kan bangkitnya kembali Kekhalifahan: pertama, sebuah Pemerintahan yang merestui pemusnahan massal (atau pun systematis) dilakukan atas nama agama adalah sebuah konsep basi yang memuakkan bagi calon-calon korban jajahannya; kedua, karena Khalifah itu dianggap di-ridloi oleh Allah, Muslim pun ngotot membenarkan bahwa memang tuhan merekalah yang memerintahkan pembantaian2 kaum wanita dan anak2 karena agama mereka. 
Masalahnya adalah bahwa pembantaian2 oleh orang Yunani itu memperlihatkan kondisi kemerosotan moral manusia – dosa umum – yang bisa terjadi dalam diri umat manusia. Orang2 Kristiani sejati tidak akan membenarkan tindakan2 itu. Yang lebih penting, orang2 Kristen tidak ngotot bahwa Nasionalisme Yunani (atau nasionalisme apapun) adalah ter-inspirasi secara ilahi. Muslim, sebaliknya, tidak bisa berpendapat yang sama mengenai pembantaian2 yang mereka lakukan. Mereka diperintakan oleh Khalifah atas nama JIHAD – ISLAM. Itulah sebabnya, sementara umat Nasrani dengan tidak ragu-ragu mengutuk pembantaian2 yang dilakukan bangsa Yunani, umat Muslim justru kesulitan untuk melakukan hal yang serupa.

References
1. Smith, Michael Llewellyn, The Fall of Constantinople, in History Makers magazine No. 5, (London, Marshall Cavendish, Sidgwick & Jackson, 1969) p. 189.
2. Smith, The Fall of Constantinople, p. 189.
3. Smith, The Fall of Constantinople, p. 189.
4. Smith, The Fall of Constantinople, p. 190.
5. Smith, The Fall of Constantinople, p. 190.
6. Smith, The Fall of Constantinople, p. 192.
7. Stokes, Gwenneth and John, Europe 1850-1959, (Longman, London, 1966 & 1969), p. 129.
8. http://imia.cc.duth.gr/turkey/chro.e.html 1999.
9. Earle, Peter, Vienna 1683, in History Makers magazine No. 6, (London, Marshall Cavendish, Sidgwick & Jackson, 1969) p. 261.
10. Earle, Vienna 1683, p. 261.
11. Stokes, Europe 1850-1959, p. 143.
12. Fisher, H. A. L., A History of Europe, (Edward Arnold, London, 1936 & 1965), p. 726.
13. Peacock, H. L., A History of Modern Europe, (Heinemann, London, 1971), p. 216.
14. Peacock, A History of Modern Europe, p. 218.
15. Peacock, A History of Modern Europe, pp. 218-219.
16. Peacock, A History of Modern Europe, p. 219.
17. Fisher, A History of Europe, p. 882.
18. Peacock, A History of Modern Europe, p. 219.
19. Fisher, A History of Europe, p. 881.
20. Peacock, A History of Modern Europe, p. 220.
21. Ye’or, Bat, The Decline of Eastern Christianity under Islam, (Associated University Presses, USA, 1996), p. 191.
22. Fisher, A History of Europe, p. 881.
23. http://aina.org/martyr.htm 1999
24. "In Asheetha, Zinger Beg with a force of 400 Kurds practiced the most barbarous cruelties upon the villagers of Tyari. The Assyrians bore his tyranny patiently for some time, but finally decided to put an end to it and decided to attack the garrison. They slew twenty of their numbers and besieged the remainder for the space of six days. On promising that they would immediately surrender and evacuate the fortress they were supplied with water by the Assyrians, when suddenly defying their besiegers a fresh conflict succeeded. In the midst of these renewed hostilities a company of 200 cavalry arrived from Badr Khan Beg, and turned the fortunes of the day. The Assyrians, taken by surprise, were completely routed, no quarter was given, and men, women, and children fell in one common massacre. The village was set on fire, and three bags of ears were cut off from the wounded, the dying, and the dead. And sent as trophy to Badr Khan Beg. All the chiefs of Tyari were killed in the massacre, besides thirty priests, and sixty deacons, Mar Shimoons’s brother Kasha Sadok, and his nephew Jesse, and many of his relatives. In the month of October 1846, a united force of Badr Khan Beg and Noorallah Beg entered the Tkhooma district, and committed ravages too horrible to be related. During the invasion 300 hundred women and as many children were brutally put to the sword in one indiscriminate slaughter; only two girls who were left for dead on the field escaped to relate the sad tale of this horrible tragedy.

The Kurds then attacked the men, who had taken up a most disadvantageous position in a valley, where they were soon surrounded by their enemies, and after fighting bravely for two hours gave up the contest. Numbers were killed in attempting to escape, and as many as one hundred prisoners, mostly women and children, were afterwards taken from the houses, which were then fired by the Kurds, as were the trees and other cultivation in the neighborhood. These unfortunate victims were then brought before Noorallah Beg and the lieutenant governor of Jezeerah, as they sat near one of the churches, and heard their doom pronounced by those blood-thirsty barbarians: Make an end of them’, said they. A few of the girls, remarkable for their beauty, were spared, the rest were immediately seized and put to death" (Nestorians and Their Rituals, pp. 370) http://aina.org/martyr.htm 1999
25. http://aina.org/martyr.htm 1999
26. Stokes, Europe 1850-1959, p. 205.
27. Peacock, The Making of Modern Europe, p. 232.
28. Peacock, The Making of Modern Europe, p. 195.
29. Fisher, A History of Europe, p. 1040; Stokes, Europe 1850-1959, p. 205.
30. Stokes, Europe 1850-1959, p. 206.
31. Stokes, Europe 1850-1959, pp. 209-210.
32. Stokes, Europe 1850-1959, p. 211.
33. Peacock, The Making of Modern Europe, (4th edition, Heinemann, London, 1971), pp. 267-268.
34. Peacock, The Making of Modern Europe, p. 268
35. Lang, D. M., and Walker, C.J., The Armenians, (Minority Rights Group, London, 1987), p. 7.
36. Lang, and Walker, The Armenians, p. 8.
37. Lang,, and Walker, The Armenians, p. 8.
38. Lang,, and Walker, The Armenians, pp.7-8.
Gambar2 diambil dari sumber: 
http://www.armeniapedia.org/
http://www.armeniapedia.org/images/thumb/d/d4/500px-Wegner-DSC_0127.JPG

BLACK TUESDAY: 29 Mei 1453
http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewtopic.php?p=31438#31438

GENOCIDE BANGSA YUNANI (The Hellenic Genocide)
http://www.greece.org/genocide/quotes/index.html

Kutipan dari dokumen dan foto2 sejarah.
Pembantaian Masal Bangsa Yunani adalah penyiksaan, pembantaian dan ethnic cleansing secara sistimatis terhdp JUTAAN orang Yunani oleh Turki di Turki di Asia Minor, Konstantinopel (yg disebut Istanbul oleh orang Turki), Thrace Timur, Imvros, Tenedos, Macedonia, Cappadocia dan Pontos antara th 1890-an sampai akhir 1950-an.

JUTAAN ANAK2, lelaki dan wanita diusir dari rumah mereka hanya karena mereka bangsa Yunani. Pada saat bersamaan, juga berlangsung pembantaian terhdp jutaan orang Armenia dan Assyria dari segala umur. 
Dosa mereka ? Karena mereka tinggal di daerah tempat peninggalan nenek moyang mereka selama ribuan tahun sebelum invasi oleh Turki. Dgn kekejaman yg tidak terbayangkan, mereka melaksanakan rencana mereka yg dinamakan "Turki bagi bangsa Turki."

Kebijakan eksterminasi bangsa Yunani ini dilakukan terhdp penduduk pulau Chios, thn 1822, persis 100 tahun sebelum tentara Turki menghancurkan kota Bizantin, Smyrna. Genocide yg paling dikenal, Holocaust yg dilakukan Nazi Jerman (dgn dukungan Turki), tidak mungkin terjadi kalau Genocide oleh Turki (dgn bantuan Nazi) with support of Germany) sudah diakui. Kami tidak dapat mengerti sepenuhnya alasan dibelakang Holocaust tanpa sebelumnya mengerti Genocide2 yg terjadi sebelumnya.
http://www.greece.org/genocide/quotes/q-he-cons-destr-church-agkon-el-yps6.html

Konstantinopel-Penghancuran gereja. Foto 9 dari 44.
Patriarch Athenagoras I didepan gerejanya, Saints Constantine and Helene di Ypsomatheion.
Perintah resmi penghancuran segala yg bersifat Yunani dan PEMERKOSAAN WANITA YUNANI.

"Kepada Panglima Korps Pusat.
Saya meminta perhatian anda bagi yg berikut :
KEMATIAN bagi orang Yunani yg tidak memiliki kehormatan (baca: tidak memeluk Islam). Begitu kau diberikan tanda pertama, segera hancurkan SEGALANYA. 
Mengenai wanita mereka, JANGAN RAGU2. 
Jangan memikirkan kehormatan ataupun persahabatan pada saat balas dendam.

Panglima Korps
Mehmet Azit."

Mayat2 segala umur setelah disiksa.
Mustafa Kemal. Orang Turki mengidolakannya seperti orang Jerman mengidolakan Adolf Hitler.

Jerman mengikuti jejak2 Turki dan sebaliknya. Sang "Ataturk" dan "Der Fuhrer" adalah dua pribadi yang terlibat genocide JUTAAN orang tidak bersalah.
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
___________________________
________ ________

 "Semoga Para Pemuda Bangsa Setanah Air ku. Dapat Segera Melihat Kebenaran Ini"

Support By :